Jakarta, landbank.co.id– Gagasan untuk menihilkan masalah hunian pada 2045 alias swasembada papan 2045 dinilai butuh sokongan banyak kalangan, termasuk aspek pembiayaan yang memerkuat kemampuan bayar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Bahkan, Wakil Menteri Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Wamen PKP), Fahri Hamzah dalam bukunya, Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045, menyoroti pentingnya terobosan pembiayaan bagi sektor perumahan.
Dalam buku yang diluncurkan di Menara 2 BTN, Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026 itu, terobosan yang dimaksud di antaranya adalah sekuritisasi massal dan covered bond.
Dalam konteks perumahan, sekuritisasi memungkinkan bank mengubah portofolio kredit pemikikan rumah (KPR) menjadi instrumen investasi yang dapat dibeli oleh investor institusional.
Terkait covered bond, tulis Fahri, portofolio kredit perumahan tetap berada di neraca bank tetapi digunakan sebagai jaminan bagi penerbitan obligasi khusus.
Baca juga: Data Backlog Perumahan Terbaru, Jakarta Tembus Satu Juta
Investor memeroleh dua lapis perlindungan sekaligus, yaitu klaim atas aset jaminan dan klaim terhadap bank penerbit.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Nixon LP Napitupulu, menegaskan, pihaknya terus merumuskan strategi inklusif agar pembiayaan hunian bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di sektor formal maupun informal.
”Kami menyusun peta jalan strategis ini agar tidak ada masyarakat yang tertinggal. Sinergi antara Satgas Perumahan, kementerian, dan BTN akan menjadi kunci utama mewujudkan Swasembada Papan 2045,” terang Nixon di sela peluncuran buku, hari ini.
Salah satu solusi realistis yang ditawarkan adalah penyediaan pembiayaan murah dengan tenor jangka panjang. Mulai dari 20, 30, hingga 40 tahun. Skema ini dinilai krusial. Mengingat, harga hunian yang terus melambung sehingga batas keterjangkauan masyarakat, khususnya MBR bisa tetap terjaga.
“Kita harus gali instrumen jangka panjang agar murah alias terjangkau sehingga MBR bisa bayar. Kalau jangka panjang tidak terganggu gonjang ganjing ekonomi, jangka panjang itu bisa 40 tahun,” ujar Nixon.
Dia menambahkan, kerangka berpikir dalam buku karya Fahri Hamzah sejatinya juga menyentuh tiga isu fundamental. Yakni, tata ruang, demokratisasi lahan, dan instrumen pembiayaan. Nah, tantangan terbesar industri saat ini adalah menggali sumber pendanaan jangka panjang yang benar-benar murah.





