Jakarta, landbank.co.id– Pangsa pasar (market share) rumah subsidi dua asosiasi besar di Indonesia mencatat penurunan sepanjang Januari-Mei 2026 disandingkan dengan periode sama 2025.
Realestate Indonesia (REI), sang pemimpin pasar rumah subsidi, mencatat penurunan market share dari 42,08 persen menjadi 41,50 persen.
Lalu, peringkat kedua terbesar rumah subsidi, yakni Asosiasi Pengembang Perumahan dan Kawasan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) melemah dari 30,33 persen menjadi 29,50 persen. (data lengkap di halaman 2)
Data market share rumah subsidi itu dicukil dari data realisasi penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) berskema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).
Baca juga: Ini Daftar Lengkap Bank Penyalur KPR FLPP Tahun 2026
Program subsidi KPR FLPP berada di bawah naungan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), sedangkan penyalurannya menggandeng kalangan perbankan.
Mengutip data BP Tapera, sepanjang Januari-Mei 2026, realisasi penyaluran KPR FLPP REI merosot sekitar 34,81 persen bila disandingkan dengan raihan periode sama 2025 menjadi 26.848 unit.
“Kondisi saat ini 37 dewan pimpinan daerah (DPD) kami sedang mengalami penurunan penjualan. Kelesuan itu dipicu oleh banyak faktor,” jelas Nelly Suryani ‘Maria’, wakil ketua umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) REI, dalam sebuah diskusi di Jakarta, baru-baru ini.
Dia menambahkan, kondisi riil itu tidak bisa dibilang baik-baik saja. Penurunan penjualan terjadi di rumah subsidi FLPP maupun rumah nonsubsidi (komersial).
Baca juga: Apersi Jaga Komitmen Membangun Rumah Rakyat, Bangun 219 Ribu Rumah Subsidi
Sepanjang 2026, masih mengutip data BP Tapera, REI mengerahkan 2.704 pengembang untuk membangun 26.848 rumah subsidi di 33 provinsi Indonesia.
Rumah subsidi yang mendapat kucuran FLPP itu tersebar di 3.424 perumahan dan merangsek 317 kabupaten dan kota.





