Jakarta, landbank.co.id– Pasar perkantoran di Jakarta, baik di pusat kawasan bisnis (central business district/CBD) maupun di luar CBD, mulai menggeliat sepanjang Januari-Maret 2026.
Geliat kawasan yang memiliki total pasokan perkantoran sekitar 11,3 juta meter persegi (m2) ini tercermin antara lain oleh merangkaknya tingkat hunian pada kuartal pertama 2026.
Sepanjang tiga bulan pertama 2026, radar konsultan properti Colliers Indonesia merekam ada tiga faktor yang membuat pasar perkantoran memberi sinyal pemulihan.
Ketiga faktor yang mendorong pemunculan sinyal pemulihan itu, mengutip riset Colliers Indonesia, terdiri atas meningkatnya aktivitas relokasi penyewa.
Baca juga: Okupansi Perkantoran Butuh Tiga Tahun untuk Pulih
Lalu, tarif sewa yang relatif stabil dan pasokan yang terbatas sehingga diharapkan dapat memperkecil celah antara pasokan dan permintaan.
“Berbeda dengan siklus sebelumnya yang sebagian besar didorong oleh perpanjangan sewa, permintaan pada awal tahun 2026 lebih banyak ditandai oleh aktivitas relokasi dan ekspansi ruang kantor,” ujar Ferry Salanto, head of Research Colliers Indonesia, dikutip Jumat, 15 Mei 2026.
Dia menambahkan, perusahaan semakin terdorong untuk meningkatkan kualitas ruang kerja, meningkatkan efisiensi, atau mempertimbangkan ruang kantor di gedung yang lebih modern setelah menempati lokasi yang sama dalam jangka waktu yang panjang.
“Hingga kuartal pertama 2026, tingkat hunian (okupansi) tercatat 75,5 persen, meskipun moderat namun mencerminkan pemulihan yang berkelanjutan dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025,” jelas Ferry Salanto.
Baca juga: Okupansi Green Office Nyaris 80 Persen
Prediksi Okupansi
Riset Colliers Indonesia menyebutkan bahwa didukung masih berlanjutnya tenant market, pindah ke gedung yang lebih berkualitas baik terus menjadi opsi menarik dan ikut menjadi faktor utama dalam pemulihan pasar perkantoran di Jakarta.





