Jakarta, landbank.co.id – CBRE Indonesia mencatat pasar perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta tidak mengalami penambahan pasokan baru pada kuartal I 2026.
Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus, menyampaikan bahwa keterbatasan suplai menjadi salah satu karakter utama pasar perkantoran saat ini.
“Pasar perkantoran masih terbatas dari sisi pasokan, terutama di kawasan CBD,” ungkap Anton dalam paparannya Rabu, 6 Mei 2026.
Meski tanpa tambahan pasokan, permintaan ruang kantor justru menunjukkan tren positif. Sepanjang kuartal I 2026, permintaan tercatat mencapai sekitar 21 ribu meter persegi.
Kondisi tersebut turut mendorong tingkat okupansi perkantoran CBD yang meningkat menjadi sekitar 76 persen, naik tipis dibandingkan periode sebelumnya.
Lebih lanjut Anton menyatakan, permintaan saat ini didominasi oleh gedung perkantoran dengan kategori Grade A dan Premium.
Ia menyampaikan, segmen ini dinilai masih menjadi pilihan utama perusahaan, terutama yang membutuhkan fasilitas modern dan lokasi strategis di pusat bisnis.
“Permintaan saat ini lebih banyak terserap di gedung Grade A dan Premium,” jelasnya.
Dari sisi harga, tren kenaikan sewa mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2021 hingga 2025, harga sewa perkantoran di kawasan CBD menunjukkan peningkatan secara bertahap.
Kenaikan ini didorong oleh kombinasi terbatasnya pasokan dan mulai pulihnya aktivitas bisnis pascapandemi.
Sementara itu, pasokan baru diperkirakan belum akan masuk dalam waktu dekat. CBRE memproyeksikan tambahan suplai baru baru akan hadir ke pasar sekitar tahun 2028.
Meski demikian, tingkat penyerapan ruang kantor diperkirakan tetap akan tumbuh seiring meningkatnya aktivitas bisnis dan kebutuhan ruang kerja.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar perkantoran CBD Jakarta mulai bergerak menuju fase pemulihan dengan keseimbangan baru antara suplai dan permintaan.
(*)





