Jakarta, landbank.co.id – Pasar properti di Jakarta menunjukkan tren pemulihan berkelanjutan pada kuartal pertama 2026, ditopang stabilitas ekonomi nasional dan peningkatan kualitas permintaan di berbagai sektor.
Riset terbaru CBRE Indonesia mencatat penyerapan ruang kantor di kawasan Central Business District (CBD) mencapai sekitar 21.300 meter persegi. Angka tersebut turut mendorong tingkat hunian naik menjadi 76,1 persen di tengah tidak adanya tambahan pasokan baru.
Managing Director Advisory CBRE Advisory Indonesia, Angela Wibawa, menyampaikan bahwa pemulihan pasar kali ini lebih sehat dibandingkan siklus sebelumnya.
“Pasar properti kini tidak lagi didominasi pengembangan spekulatif, tetapi didorong oleh permintaan riil dari penyewa dan end-user,” ujar Angela Wibawa dalam keterangan resminya yang diterima landbank.co.id Rabu, 6 Mei 2026.
Dari sisi makroekonomi, Anton Sitorus menegaskan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang stabil di kisaran 5 persen menjadi fondasi utama penguatan sektor properti.
Realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal pertama 2026 juga tercatat mendekati Rp500 triliun, didominasi sektor industri hilir, jasa, dan pertambangan.
“Pertumbuhan saat ini berbasis penyerapan riil, sehingga risiko lebih terkendali dan mendukung imbal hasil berkelanjutan,” ungkap Anton.
Permintaan ruang kantor saat ini didominasi gedung Premium Grade dan Grade A, seiring meningkatnya preferensi terhadap bangunan berkualitas tinggi dan efisien energi.
Di luar CBD, pasar juga menunjukkan kinerja positif. Satu proyek baru di kawasan PIK menambah pasokan sekitar 56.000 meter persegi, dengan penyerapan mencapai 22.800 meter persegi dan tingkat hunian 72,9 persen.
Sementara itu, sektor industri dan logistik terus mencatat kinerja solid. Penyerapan lahan industri mencapai 86 hektare dengan tingkat hunian sekitar 90,8 persen, didorong aktivitas di koridor timur Jakarta serta pertumbuhan data center.
Head of Capital Markets & Industrial Services Ivana Susilo menyebut pusat logistik modern bahkan mencatat tingkat hunian hingga 98 persen, mencerminkan tingginya permintaan dari sektor e-commerce, manufaktur, dan FMCG.
Di sektor ritel, tingkat hunian pusat perbelanjaan meningkat menjadi sekitar 86 persen dengan permintaan bersih mencapai 15.600 meter persegi. Pertumbuhan didorong ekspansi tenant food & beverage, lifestyle, serta hiburan.
Pusat perbelanjaan kelas atas tetap menjadi yang paling kuat dengan tingkat hunian di atas 95 persen, sementara mal kelas menengah-atas menunjukkan perbaikan stabil.
Secara keseluruhan, CBRE Indonesia menilai pasar properti Jakarta saat ini memasuki fase transisi menuju pertumbuhan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
“Risiko masih ada, tetapi kini lebih terlihat dan dapat dikelola karena didukung fundamental pasar yang lebih sehat,” tutup Angela.
(*)





