Jakarta, landbank.co.id– Hasil Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia (SHPR BI) menunjukkan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 tumbuh terbatas.
“Kondisi ini tecermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 0,62 persen (year on year/yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 sebesar 0,83 persen (year on year/yoy),” ujar Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso dilansir laman BI, dikutip Minggu 10 Mei 2026.
Mengutip SHPR BI, perlambatan pertumbuhan harga properti residensial tersebut terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan harga rumah tipe menengah dan besar yang masing-masing mencatatkan indeks sebesar 113,56 dan 108,14.
Kedua tipe rumah tersebut masing-masing mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,88 persen (yoy) dan 0,50 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan IV 2025 sebesar 1,12 persen (yoy) dan 0,72 persen (yoy).
Sementara itu, pertumbuhan harga rumah tipe kecil turut mencatatkan perlambatan dengan indeks sebesar 113,91, tumbuh melambat sebesar 0,61 persen (yoy) dibandingkan triwulan IV 2025 sebesar 0,76 persen (yoy).
Baca juga: Pembeli Rumah Kian Doyan Bayar Tunai
Secara spasial, dari 18 kota yang disurvei, 10 kota di antaranya mengalami perlambatan pertumbuhan dan tiga kota mengalami penurunan IHPR secara tahunan.
Perlambatan pertumbuhan harga salah satunya tercatat di Banjarmasin yang mengalami pertumbuhan 0,52 persen (yoy), setelah tumbuh sebesar 1,63 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya.
Di sisi lain, masih mengutip SHPR BI, harga rumah di Surabaya pada triwulan I 2026 mencatatkan kontraksi yang semakin dalam sebesar 0,27 persen (yoy) dibandingkan triwulan IV 2025 yang terkontraksi 0,04 persen (yoy).
Lalu, harga rumah di Padang dan Balikpapan meningkat dari triwulan sebelumnya masing-masing sebesar 0,17 persen (yoy) dan 0,43 persen (yoy), menjadi 1,21 persen (yoy) dan 1,44 persen (yoy) pada triwulan I 2026.
Secara triwulanan, IHPR di pasar primer pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 0,04 persen (quarter to quarter/qtq), melambat dibandingkan 0,17 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya.
Baca juga: Ini Segmen Harga Rumah Paling Laris Manis
Perlambatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan rumah tipe kecil yang melambat yaitu sebesar 0,06 persen (qtq) dari 0,28 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya.
Sementara itu, pertumbuhan harga rumah tipe menengah mengalami kontraksi sebesar 0,01 persen (qtq), turun dibandingkan 0,12 persen pada triwulan IV 2025.
Selain itu, pertumbuhan harga rumah tipe besar turut mengalami perlambatan sebesar 0,06 persen (qtq) dari 0,17 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya.
Secara spasial, perlambatan harga secara triwulanan pada triwulan I 2026 terutama bersumber dari pertumbuhan harga rumah di Pontianak dan Yogyakarta, masing-masing terkontraksi sebesar 0,74 persen (qtq) dan 0,68 persen (qtq), dari sebelumnya sebesar 0,56 persen (qtq) dan 0,18 persen (qtq) pada triwulan IV 2025.
Baca juga: Ini Harga Rumah yang Paling Digemari Konsumen 2026
Sementara itu, perkembangan harga rumah di Bandar Lampung dan Denpasar relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya.





