Jakarta, landbank.co.id– Konsultan properti Colliers Indonesia memerkirakan butuh waktu berkisar dua hingga tahun dari sekarang untuk menuju tingkat hunian alias okupansi perkantoran seperti ke posisi prapandemi Covid-19.
Mengutip data Colliers Indonesia, okupansi perkantoran saat prapandemi, yakni tahun 2019 berada di posisi 83,5 persen.
Menurut Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, prediksi itu berdasarkan analisis pihaknya terhadap kondisi yang ada.
Dia menyebutkan, hal yang mendasari mencakup adanya proyeksi ekonomi nasional yang membaik. Lalu, keterbatasan pasok dalam tiga tahun kedepan.
“Serta ada harapan laju penyerapan yang bisa membaik kedepannya,” tutur Ferry Salanto dalam paparannya di Jakarta, baru-baru ini.
Baca juga: Okupansi Perkantoran di CBD Jakarta 75 Persen
Dia menerangkan, saat ini, secara umum pasar perkantoran di Jakarta mulai bergerak dengan peningkatan permintaan terutama dari perusahaan yang melakukan relokasi.
“Namun, tingkat okupansi masih terbatas sehingga pemulihannya masih berjalan bertahap,” tutur Ferry Salanto.
Hingga kuartal pertama 2026, tingkat okupansi perkantoran di pusat kawasan bisnis (central business district/CBD) Jakarta sebesar 75,7 persen.
Untuk di luar CBD Jakarta, mengutip data Colliers Indonesia, tingkat okupansi perkantoran sebesar 68,7 persen.
“Penyewa lebih fokus kepada efisiensi ruang dan kualitas gedung. Sementara itu, kenaikan sewa mulai terlihat secara tipis di aset yang punya peforma baik,” tutur dia.
Baca juga: Okupansi Perkantoran Grade A Paling Moncer
Ruang kosong perkantoran saat ini masih kosong yang cukup besar sehingga wajar kalau developr atau investor wait and see untuk menambah supply baru.
Ferry menerangkan, tidak ada pasokan baru pada 2027. Tambahan ruang kantor baru muncul pada 2028 yaitu dari penyelesaian gedung Sudirman Two yang sekarang dalam tahap konstruksi.





