Jakarta, landbank.co.id– Sejumlah kalangan menilai masih ada celah permintaan ruang kantor di Jakarta sepanjang tahun 2026.
Bahkan, radar Leads Property Service Indonesia (Leads Property) telah merekam adanya permintaan ruang kantor seluas 24.325 meter persegi (m2) sepanjang Januari-Maret 2026.
Permintaan itu terutama didorong oleh beberapa sektor yang rajin belanja ruang kantor seperti IT, perbankan, serta minyak dan gas.
Mengutip data Leads Property, selain sektor-sektor tersebut yang perlu diperhatikan, selama kuartal berjalan, permintaan didukung juga oleh berbagai lini bisnis seperti logistik, pasar perlengkapan bisnis, dan distributor produk teknis.
“Di tengah-tengah gejolak geopolitik Timur Tengah, pasar perkantoran di Jakarta secara keseluruhan masih menunjukan pergerakan yang positif karena tipikal permintaan dari ruang kantor, berasal dari korporasi lokal dan asing,” tutur Martin Samuel Hutapea, associate director Research & Consultancy Department Leads Property kepada landbank.co.id di Jakarta, Senin 4 Mei 2026.
Baca juga: Permintaan Ruang Perkantoran Tetap Positif pada 2026
Dia menjelaskan, permintaan dari asing itu lebih didominasi oleh korporasi yang berbasis di Asia, yakni Asia Tenggara atau Asia Timur yang tidak terlalu terpengaruh oleh rute penerbangan melalui Timur Tengah.
“Sehingga business travel pun juga normal. Selain itu, meeting korporasi pun dapat dilakukan secara online. Meski demikian, kita berharap gejolak geopolitik di Timur Tengah mereda secepatnya,” kata Martin.
Dia menjelaskan, pada 2025, total permintaan keseluruhan di Jakarta mencapai sekitar 155.000 meter persegi dengan rata- rata tingkat hunian sekitar 74,1 perseen.
“Hingga akhir 2026, kami prediksikan permintaan ruang kantor di Jakarta secara keseluruhan akan berada di kisaran 160.000–165.000 meter persegi atau meningkat berkisar 3-6 persen secara tahunan, dengan kondisi belum ada pasokan baru yang signifikan ukurannya. Walaupun ada, hanya sekitar 36.000 meter persegi yang berasal dari beberapa gedung berskala kecil di luar-CBD Jakarta. Oleh karena itu, tingkat hunian juga diprediksikan sedikit bergerak naik ke angka 75 persen,” terang Martin.
Baca juga: Okupansi Perkantoran Butuh Tiga Tahun untuk Pulih
Data Leads Property menyebutkan bahwa sepanjang awal 2026 tidak ada tambahan ruang perkantoran baru sehingga pasokan kumulatif masih berada di angka 7,45 juta meter persegi.
Dari 7,45 juta meter persegi stok ruang perkantoran di Jakarta, mayoritas yakni 27 persen terletak di kawasan Jenderal Sudirman, sedangkan lokasi kedua terbesar ada di kawasan Rasuna Said.





