Jakarta, landbank.co.id– Manajemen PT Jababeka Tbk (KIJA) menilai bahwa permintaan properti di kawasan industri masih tetap sehat sepanjang Januari-Maret 2026.
Indikasi itu tercermin dari peningkatan penjualan tanah dan bangunan pabrik standar serta penjualan rumah dan tanah emiten berkode saham KIJA di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut.
Penjualan tanah dan bangunan pabrik standar milik KIJA tercatat meningkat signifikan menjadi Rp32,5 miliar pada tiga bulan pertama 2026, dari Rp9,3 miliar pada periode yang sama 2025.
“Sementara itu, penjualan rumah dan tanah juga naik menjadi Rp21,8 miliar dari Rp13,9 miliar, menunjukkan permintaan properti industri tetap sehat,” kata manajemen KIJA dalam siaran pers, dikutip Sabtu 2 Mei 2026.
Khusus penjualan rumah dan tanah, mengutip data Perseroan, tahun 2022 melejit sekitar 68 persen, namun pada 2023 turun sekitar 45 persen.
Baca juga: Penjualan Lahan Dongkrak Pendapatan Jababeka
Setelah mencatat penurunan sekitar 6 persen pada 2024, KIJA juga membukukan penurunan, yakni sekitar 56 persen pada 2025. Sebaliknya, dalam rentang tiga bulan pertama 2026, KIJA mencatat pertumbuhan penjualan rumah dan tanah sekitar 57 persen.
Raih Laba Bersih
Sementara itu, KIJA membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp1,19 triliun pada kuartal pertama tahun 2026, dibandingkan dengan Rp1,29 triliun pada periode yang sama 2025.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya kontribusi dari Pilar Land Development & Property, khususnya dari penjualan tanah matang, meskipun kinerja Pilar Infrastruktur menunjukkan pertumbuhan yang solid dan semakin dominan sebagai sumber pendapatan berulang Perseroan.
Baca juga: Tak Hanya Pendapatan, Laba Jababeka Pun Meningkat
Pendapatan dari Pilar Land Development & Property tercatat sebesar Rp507,1 miliar pada Januari-Maret2026, turun dari Rp690,1 miliar per akhir Maret 2025.
Penurunan ini terutama berasal dari penjualan tanah matang yang tercatat sebesar Rp433,9 miliar dibandingkan Rp638,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Penurunan penjualan lahan industri tersebut terutama berasal dari Cikarang dan Kendal, yang sebagian besar disebabkan oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan,” jelas manajemen KIJA.
Di sisi lain, pendapatan KIJA dari Pilar Infrastruktur meningkat 15 persen menjadi Rp654,7 miliar pada tiga bulan pertama tahun 2026, dibandingkan dengan Rp568,3 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen ketenagalistrikan yang meningkat menjadi Rp418,5 miliar dari Rp384,2 miliar, seiring meningkatnya konsumsi listrik tenant di Kendal dan Cikarang.
Baca juga: 2026, KIJA Tingkatkan Target Marketing Sales
Selain itu, pendapatan dari segmen jasa dan pemeliharaan (air, air limbah, pengelolaan kawasan, dan lainnya) juga tumbuh signifikan menjadi Rp173,3 miliar dari Rp116,9 miliar, mencerminkan aktivitas tenant yang semakin tinggi, khususnya di Kendal.
Di sisi lain, pendapatan dry port (CDP) tercatat sebesar Rp57,2 miliar dibandingkan Rp62,6 miliar pada kuartal pertama 2025. Kontribusi pendapatan berulang dari Pilar Infrastruktur semakin dominan, mencapai sekitar 55 persen dari total pendapatan, meningkat dari raihan periode sama 2025 yang sebesar 44 persen. Kondisi ini dinilai mencerminkan fundamental bisnis Perseroan yang semakin kuat dan berkelanjutan di tengah fluktuasi penjualan lahan.





