Jakarta, landbank.co.id– Pengembang properti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menilai bahwa permintaan properti, khususnya produk residensial masih cukup tangguh (resilience) pada 2026.
Pernyataan itu dilontarkan manajemen emiten berkode saham BSDE di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini setelah melihat raihan prapenjualan atau penjualan pemasaran (marketing sales) kuartal pertama 2026.
Sepanjang Januari-Maret 2026, pengembang kota mandiri BSD City, Tangerang, Banten tersebut membungkus marketing sales Rp2,54 triliun, sebanyak 49 persen di antaranya disetor segmen residensial.
Menurut Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk, Hermawan Wijaya, kinerja awal tahun ini menunjukkan bahwa minat pasar tetap terjaga, terutama pada proyek-proyek dengan lokasi strategis dan konsep terintegrasi.
“Kami melihat bahwa permintaan properti, khususnya di segmen residensial, masih cukup resilience. Hal ini didukung oleh kebutuhan hunian yang tetap kuat serta kepercayaan konsumen terhadap kawasan mandiri terintegrasi seperti BSD City,” jelas Hermawan, dikutip Selasa 5 Mei 2026.
Baca juga: Deretan Residensial Pendulang Cuan BSDE
Tangguhnya segmen residensial sehingga menjadi pendorong utama prapenjualan BSDE, didukung oleh proyek-proyek unggulan di BSD City seperti Nava Park, Hiera, The Armont Residences, Eonna, Terravia, Vireya, serta peluncuran klaster baru “Izzi”.
Selain itu, proyek di Grand Wisata Bekasi, Kota Wisata Cibubur dan Grand City Balikpapan juga memberikan kontribusi positif terhadap prapenjualan.
Tumbuh 5 Persen
Manajemen BSDE menerangkan, prapenjualan sebesar Rp2,54 triliun pada kuartal pertama 2026 setara dengan 25 persen dari target tahunan Perseroan yang sebesar Rp10,00 triliun.
Pencapaian ini juga tumbuh 5 persen secara tahunan (year on year/yoy), dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,43 triliun. Hal ini mencerminkan daya tahan sektor properti residensial nasional.
Baca juga: Prapenjualan BSDE 10 Tahun Terakhir
Kinerja tersebut didorong oleh kontribusi kuat dari segmen residensial sebesar Rp1,23 triliun (49 persen), diikuti segmen komersial sebesar Rp944,14 miliar (37 persen), serta lain-lain sebesar Rp364,39 miliar (14 persen).





