Begini Market Share Rumah Subsidi Lima Asosiasi, Asprumnas Naik Kelas

Begini Market Share Rumah Subsidi Lima Asosiasi, Asprumnas Naik Kelas

Empat dari lima asosiasi terbesar harus puas mencatat penurunan realisasi KPR FLPP semester pertama 2026, namun satu di antaranya justru mencatat pertumbuhan-landbank.id-

Jakarta, landbank.co.id- Lima asosiasi pengembang properti menguasai 92,23 persen realisasi penyaluran kredit pemilikan rumah berskema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan alias KPR FLPP periode Januari-Juni 2026.

Mereka yang mendominasi realisasi KPR FLPP semester pertama 2026 adalah Realestat Indonesia (REI), Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra), Asosiasi Pengembang dan Pemasar Rumah Nasiona (Asprumnas), dan Pengembang Indonesia (PI).

Mengutip data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), kelima perkumpulan developer itu menyerap 84.417 rumah subsidi setara sekitar Rp10,48 triliun.

Empat dari lima asosiasi terbesar itu harus puas mencatat penurunan realisasi KPR FLPP, namun satu di antaranya justru mencatat pertumbuhan.

REI masih menjadi pemimpin pangsa pasar (market share) rumah subsidi dengan penguasaan setara sekitar 41,57 persen dari total realisasi penyaluran KPR FLPP secara nasional yang menyentuh 91.531 unit.

BACA JUGA:Realisasi KPR FLPP BNI Meninggi

Per akhir Juni 2026, REI mengerahkan 4.107 anggotanya di 325 kabupaten dan kota. Mereka membangun 3.779 perumahan.

Sekalipun masih dominan, torehan semester pertama 2026 asosiasi pengembang tertua di Indonesia itu terlihat menurun bila disandingkan dengan raihan Januari-Juni 2025.

Masih mengutip data BP Tapera, market share rumah subsidi REI pada enam bulan pertama 2025 mencapai sebesar 41,97 persen.

Maklum, realisasi KPR FLPP REI semester pertama 2026 tercatat merosot 25,05 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama 2025.

Penguasa pangsa pasar rumah subsidi kedua terbesar, yakni Apersi, pada Januari-Juni 2026, mengoleksi market share sebesar 29,55 persen.

Pada periode itu sebanyak 3.264 anggota Apersi membangun 2.667 perumahan di 263 kabupaten dan kota di Indonesia.

BACA JUGA:Begini Realisasi KPR FLPP Semester Pertama 2026, Pemain Utama Turun

Serupa dengan nasib REI, per akhir Juni 2026, realisasi KPR FLPP Apersi juga turun, yakni sebanyak 26,4 persen.

Di posisi ketiga, Himperra menguasai 13,36 persen realisasi KPR FLPP periode semester pertama 2026.

Rumah subsidi yang dibangun 1.412 anggota Himperra per akhir Juni 2026, tersebar di 1.211 perumahan yang ada di 199 kabupaten dan kota.

Pemimpin pangsa pasar ketiga terbesar itu juga bernasib sama dengan REI dan Apersi, yakni harus puas membukukan penurunan. Realisasi KPR FLPP Himperra turun 25,10 persen.

Berbeda dengan peringkat pertama hingga ketiga, penguasa pangsa pasar keempat, yaitu Asprumnas justru mencatat peningkat market share, yakni dari 3,28 persen menjadi 4,59 persen.

Per akhir Juni 2026, sebanyak 315 anggota Asprumnas membangun 239 perumahan di 53 kabupaten dan kota.

Mayoritas realisasi KPR FLPP Asprumnas terserap di Provinsi Jawa Barat, yakni sekitar 85 persen, selebihnya tersebar di 13 provinsi.

BACA JUGA:Tiga Asosiasi Ini Mendominasi KPR FLPP 2026

Dari total realisasi KPR FLPP Asprumnas, porsi pembiayaan syariah cukup besar, yakni 22,7 persen, sedangkan KPR FLPP konvensional 77,3 persen.

Asosiasi pengembang dengan penguasaan pangsa pasar terbesar kelima ditempati oleh PI dengan torehan sebesar 3,15 persen pada semester pertama 2026.

PI mengerahkan 428 anggota untuk membangun 376 perumahan yang tersebar di 86 kabupaten dan kota yang ada di Indonesia.

Asosiasi ini mencatat penurunan realisasi KPR FLPP sebanyak 21,92 persen untuk periode semester pertama 2026 disandingkan dengan periode sama 2025.

 

Penurunan Bank Penyalur

Sementara itu, sepanjang Januari-Juni 2026, secara nasional realisasi KPR FLPP tercatat turun 24,34 persen bila disandingkan dengan raihan periode sama 2025.

Mengutip data BP Tapera, sepanjang enam bulan pertama 2026, realisasi KPR FLPP menyentuh 91.531 rumah subsidi.

Nilai KPR FLPP untuk pembiayaan rumah subsidi pada semester pertama tersebut setara dengan sekitar Rp11,37 triliun.

Penurunan itu seiring dengan melemahnya realisasi yang ditorehkan oleh para bank penyalur KPR subsidi tersebut.

BACA JUGA:Market Share KPR FLPP Syariah Menggelembung

Sebut saja misalnya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) yang merupakan motor penyaluran KPR subsidi, per akhir Juni 2026, turun 31,11 persen.

Bank pelat merah yang menguasai pangsa pasar KPR FLPP sebanyak 48,50 persen itu harus puas mencatatkan penyaluran KPR FLPP sebanyak 44.388 unit pada semester pertama 2026.

Penurunan juga terlihat di penguasa pangsa pasar KPR FLPP syariah, yakni PT Bank Syariah Nasional (BSN). Per akhir Juni 2026, realisasi KPR FLPP BSN turun 4,13 persen.

Anak usaha BTN tersebut menggelontorkan KPR FLPP sebesar Rp2,85 triliun untuk 23.130 rumah subsidi sepanjang enam bulan pertama 2026.

BACA JUGA:Januari-Mei, Realisasi KPR FLPP Turun 34 Persen

Sekalipun realisasi unit dan nilai FLPP turun, namun penguasaan pangsa pasar BSN justru menanjak, yakni dari  19,94 persen menjadi sebesar 25,27 persen.

Pemain utama penyaluran KPR FLPP yang juga mencatat penurunan adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

Bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) ini harus puas mencatat penurunan realisasi FLPP sebesar 28,09 persen.

 

(*)