Jakarta, landbank.co.id– Tingkat hunian rata-rata (okupansi) gedung perkantoran di Jakarta kian tak terpisahkan dengan simpul transportasi.
Gedung perkantoran yang terletak di dekat dengan simpul transportasi atau memiliki kemudahan akses ke angkutan umum massal berpeluang punya okupansi tinggi.
Riset Colliers Indonesia yang dipublikasikan Juni 2026 memerlihatkan hal itu, khususnya bagi gedung perkantoran dengan akses mudah ke moda transportasi mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT).
Pada kuartal pertama 2026, tingkat okupansi gedung perkantoran yang memiliki akses ke MRT dan LRT lebih tinggi berkisar 8 persen hingga 9 persen dibandingkan dengan yang tidak memiliki konektivitas tersebut.
Sebut saja misalnya, okupansi gedung perkantoran di simpul transportasi seperti kawasan Sudirman dan Thamrin yang tercatat memiliki okupansi 77,4 persen. Kawasan ini memiliki transportasi MRT Jakarta dan Transjakarta.
Baca juga: Okupansi Perkantoran Butuh Tiga Tahun untuk Pulih
Lalu, koridor Rasuna Said dan Gatot Subroto yang terakses oleh LRT Jabodebek dan Transjakarta tercatat memiliki okupansi 75,9 persen.
Sebaliknya, kawasan yang tidak memiliki kemudahan akses dengan jalur kereta seperti Mega Kuningan dan Satrio, okupansinya sebesar 67,9 persen.
“Hal ini menggarisbawahi pergeseran mendasar di pasar, di mana aksesibilitas—bukan hanya lokasi—muncul sebagai pendorong utama permintaan,” dikutip dari riset Colliers Indonesia, baru-baru ini.
Berdasarkan pengamatan Office Services Colliers Indonesia, konektivitas terhadap infrastruktur transportasi massal kini semakin menjadi faktor penentu utama kinerja sektor perkantoran di Jakarta, yang secara fundamental mengubah preferensi penyewa serta strategi investasi.
Baca juga: Perkantoran Jakarta, Leads Property: Harga Kantor Naik Tipis
Di tengah meningkatnya tantangan mobilitas di kawasan Jabodetabek, perusahaan mulai mendefinisikan ulang strategi tempat kerja mereka.
Aksesibilitas terhadap sistem transportasi terintegrasi seperti MRT, LRT, KRL Commuter Line, dan TransJakarta Bus Rapid Transit kini telah menjadi faktor penentu yang memengaruhi keputusan penyewaan serta kinerja aset secara keseluruhan.





