“Sebagai pengembang properti dengan portofolio yang terdiversifikasi pada segmen perhotelan, komersial, dan mixed-use development, Perseroan memiliki fondasi bisnis yang kokoh untuk menangkap peluang pertumbuhan di sektor properti dan gaya hidup (lifestyle),” jelas Presiden Direktur INPP Anthony Wibowo Susilo, dikutip dari Laporan Tahunan Perseroan Tahun 2025.
Dia menerangkan, salah satu rencana strategis yang akan memperkuat kinerja Perseroan adalah pembukaan pusat perbelanjaan baru dan ikonik di kota Semarang, yaitu 23 Semarang yang mengusung konsep lifestyle. Konsep ini sejalan dengan perubahan preferensi konsumen, di mana pengunjung mencari pengalaman yang unik dan bernilai tambah.
“Dengan lokasi yang strategis serta potensi pertumbuhan ekonomi dan demografi masyarakat di kota Semarang yang terus berkembang, proyek ini diyakini akan menjadi katalis pertumbuhan pendapatan berulang (recurring income) bagi Perseroan,” jelas dia.
Baca juga: Terapkan Strategi Ini, INPP Berharap Recurring Income Setor 70 Persen
Ke depan, tambahnya, Perseroan juga terus menjajaki peluang ekspansi di berbagai kota potensial lainnya, baik melalui pengembangan proyek baru maupun optimalisasi aset eksisting. Strategi ini akan dilakukan secara selektif dan terukur, dengan mempertimbangkan dinamika dan potensi pasar, serta tingkat permintaan konsumen.
“Memasuki awal tahun 2026, Perseroan telah menganggarkan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp400 miliar yang rencananya akan dialokasikan untuk proyek 23 Semarang dan proyek di Balikpapan,” kata Anthony.
Sementara itu, jumlah aset INPP per akhir Maret 2026 menyentuh sebesar Rp10,25 triliun, sedangkan pada akhir Desember 2026 senilai Rp10,18 triliun.
Liabilitas INPP juga relatif stabil, yakni sebesar Rp3,45 triliun pada akhir 2025 dan senilai Rp3,47 triliun pada kuartal pertama 2026.
Baca juga: Bisnis Hotel Paradise Indonesia Kian Kinclong
Begitu juga dengan ekuitas. Per akhir Maret 2026, ekuitas INPP sebesar Rp6,78 triliun, sedangkan pada akhir 2025 senilai Rp6,73 triliun.
Para pemegang saham Paradise Indonesia per akhir Maret 2026 terdiri atas Standard Chartered Bank SG S/A VP Bank A/C PT Grahatama Kreasibaru sebesar 36,24 persen, Standard Chartered Bank SG S/A VP Bank A/C Tree of Blessing Pte Ltd 28,15 persen, dan PT Propertindo Prima Investama 10,00 persen.
Lalu, Elysium Investment Partner Ltd 8,00 persen, CGS International Securities Singapore Pte Ltd 7,80 persen, Patrick Santosa Rendradjaja (direktur INPP) 0,04 persen, Karel Patipeilohy (komisaris INPP) 0,01 persen, dan masyarakat 9,76 persen.
Baca juga: Tahun 2025 Kinclong, INPP Siap Tambah Proyek di Balikpapan
(*)





