Di Kawasan Industri, Penjualan Lahan Masih Berjalan

Di Kawasan Industri, Penjualan Lahan Masih Berjalan

Bisnis kawasan industri di Indonesia terus berdenyut pada 2026. Hal itu salah satunya tercermin dari penjualan lahan yang masih terus berjalan-landbank.id-deltamas.id

Jakarta, landbank.co.id-Bisnis kawasan industri di Indonesia terus berdenyut pada 2026. Hal itu salah satunya tercermin dari penjualan lahan yang masih terus berjalan.

Laju penjualan lahan kawasan industri terekam dari sejumlah emiten properti yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sepanjang Januari-Juni 2026, penjualan lahan kawasan industri ditorehkan tidak saja oleh para emiten yang menggarap proyek di Jabodetabek, tapi juga di area lain di Pulau Jawa.

Bahkan, bagi PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), penjualan lahan turut menopang prapenjualan (marketing sales) dari Pilar Pengembangan Lahan & Properti pada semester pertama 2026.

Per akhir Juni 2026, marketing sales emiten berkode saham KIJA di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu mencapai Rp1,19 triliun atau setara 32 persen dari target prapenjualan Perseroan tahun 2026.

BACA JUGA:DMAS Buka Kartu Kenapa Jadi Incaran Data Center

Manajemen KIJA menyebutkan bahwa marketing sales dari Cikarang, Jawa Barat dan wilayah lainnya (termasuk joint venture) menyumbang 29 persen, terutama didorong oleh penjualan lahan industri seluas 3 hektare kepada perusahaan tekstil Indonesia dan 0,7 hektare kepada perusahaan importir bahan bangunan asal Tiongkok.

Sementara itu, jelas manajemen KIJA, proyek Perseroan di Kendal, Jawa Tengah menyumbang 71 persen dari total marketing sales, didukung oleh penjualan lahan seluas 7 hektare kepada produsen baterai serta 9,7 hektare kepada produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia.

Target marketing sales Perseroan untuk tahun 2026 sebesar Rp3,75 triliun, yang terdiri atas Rp1,25 triliun dari Cikarang dan wilayah lainnya—meliputi Rp800 miliar dari penjualan lahan industri dan bangunan pabrik di Cikarang serta Rp450 miliar dari penjualan properti residensial dan komersial di Cikarang (termasuk joint venture) dan lokasi lainnya, sedangkan senilai Rp2,5 triliun sisanya diharapkan berasal dari Kendal.

Sementara itu, permintaan lahan industri menjadi motor prapenjualan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) sepanjang semester pertama 2026.

BACA JUGA:KIJA Perkuat Recurring Income

Pengembang kawasan modern terpadu Kota Deltamas, Jawa Barat itu meraih prapenjualan sebesar Rp1,15 triliun pada semester pertama tahun 2026.

Torehan sepanjang enam bulan pertama 2026 itu sekitar 55 persen dari target prapenjualan DMAS tahun ini yang dipatok sebesar Rp2,08 triliun.

Target prapenjualan DMAS tahun 2026 lebih besar sekitar 15 persen bila dibandingkan dengan target setahun sebelumnya yang senilai Rp1,81 triliun.

“Pada semester pertama tahun 2026, perolehan prapenjualan Perseroan terutama berasal dari  penjualan lahan industri,” ujar Tondy Suwanto, direktur dan sekretaris perusahaan PT Puradelta Lestari Tbk, dikutip baru-baru ini.

BACA JUGA:AKRA Raup Rp1,71 Triliun dari Kawasan Industri 

Di sudut lain, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membukukan pertumbuhan pendapatan tanah kawasan industri dan lainnya sekitar 101 persen sepanjang Januari-Juni 2026 disandingkan dengan periode sama 2026.

Mengutip laporan keuangan Perseroan, pada enam bulan pertama 2026, pendapatan tanah kawasan industri dan lainnya emiten berkode saham AKRA di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sekitar Rp1,71 triliun.

Sebaiknya, pada semester pertama 2025, pendapatan AKRA dari segmen tanah kawasan industri dan lainnya tercatat sekitar Rp848,60 miliar.

Pada semester pertama 2026, pendapatan segmen kawasan industri mencakup penjualan tanah kawasan industri sekitar Rp1,29 triliun serta pendapatan dari listrik dan utilitas lainnya sekitar Rp426,53 miliar.

AKRA melakoni bisnis kawasan industri melalui PT Usaha Era Pratama Nusantara (UEPN) yang 99,99 persen sahamnya dimiliki oleh perseroan.

BACA JUGA:RISE Masuk Bisnis Kawasan Industri

Hal itu dimungkinkan mengingat UEPN menguasai 60 persen saham PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) yang mengoperasikan Kawasan Industri dan Pelabuhan Terpadu (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur.

 

(*)