KIJA Perkuat Recurring Income

KIJA Perkuat Recurring Income

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) bertekad terus memerkuat pendapatan berulang (recurring income) yang terbukti moncer pada semester pertama 2026-landbank.id-kija

Jakarta, landbank.id- PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) bertekad terus memerkuat pendapatan berulang (recurring income) yang terbukti moncer pada semester pertama 2026.

Pada semester pertama 2026, pendapatan berulang yang dihasilkan pilar infrastruktur menyumbang sekitar 57 persen terhadap total pendapatan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.

Pendapat berulang dihasilkan oleh lini bisnis infrastruktur serta jasa dan pemeliharaan yang ditekuni oleh PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. Lini ini antara lain mencakup listrik, penyediaan air bersih, dan pengelolaan kawasan.

Emiten berkode saham KIJA di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini membeberkan bahwa sepanjang Januari-Juni 2026, pendapatan dari pilar infrastruktur meningkat 15 persen menjadi sekitar Rp1,40 triliun, sedangkan pada periode sama 2025 senilai Rp1,22 triliun.

BACA JUGA:KIJA: Permintaan Properti Industri Tetap Sehat

“Kinerja kami pada semester pertama mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang, yang kini telah menyumbang lebih dari separuh pendapatan konsolidasian Perseroan,” papar Budianto Liman, wakil direktur utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk dalam keterangan tertulis dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.

Manajemen KIJA meyakini bahwa permintaan yang berkelanjutan dari tenant industri di kawasan Cikarang, Jawa Barat dan Kendal, Jawa Tengah akan terus mendukung pertumbuhan jangka panjang pendapatan berulang dari utilitas, logistik, dan layanan pengelolaan kawasan.

“Kami terus melihat permintaan yang baik terhadap lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal, sembari tetap fokus pada eksekusi yang disiplin di seluruh lini bisnis serta memperkuat basis pendapatan berulang kami,” tutur Budianto.

 

Konsumsi Listrik

Manajemen KIJA menyatakan bahwa pertumbuhan pendapatan dari pilar infrastruktur pada semester pertama 2026 antara lain didorong oleh segmen listrik.

Per akhir Juni 2026, pndapatan segmen itu naik menjadi Rp921,6 miliar dari Rp849,1 miliar pada periode sama 2025, seiring meningkatnya konsumsi listrik tenant di Kendal dan Cikarang.

BACA JUGA:2026, KIJA Tingkatkan Target Marketing Sales

Penopang lainnya adalah pendapatan dari segmen jasa dan pemeliharaan (penyediaan air bersih, pengolahan air limbah, pengelolaan kawasan, dan layanan lainnya).

Segmen jasa dan pemeliharaan meningkat 39 persen menjadi Rp347,2 miliar dari Rp250,2 miliar, terutama didorong oleh meningkatnya permintaan dari tenant di Kendal.

Di sisi lain, pendapatan Cikarang Dry Port (CDP) meningkat menjadi Rp129,4 miliar dari Rp121,3 miliar, terutama didorong oleh kenaikan volume peti kemas yang ditangani sebesar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya serta pertumbuhan bisnis logistik pendukung.

Pendapatan berulang yang dihasilkan pilar infrastruktur mencapai 57 persen dari total pendapatan konsolidasian KIJA pada periode enam bulan pertama 2026, meningkat dari 45 persen pada periode sama 2025.

 

Penyebab Rugi

Di sisi lain, Perseroan membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp2,44 triliun pada semester pertama 2026, turun 11 persen dibandingkan Rp2,73 trilun pada semester pertama 2025.

BACA JUGA:KIJA Membalikkan Keadaan, Raup Laba Bersih Rp200,5 Miliar

Selain itu, KIJA mencatat rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar, dibandingkan laba bersih sebesar Rp627,6 miliar pada enam bulan pertama 2025.

Rugi bersih tersebut terutama disebabkan oleh beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes Perseroan menjadi pinjaman bank, yang meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat terkait Senior Notes yang jatuh tempo pada tahun 2027.

Menurut Budianto, meskipun kinerja keuangan pada semester pertama 2026 dipengaruhi oleh lebih rendahnya kontribusi bisnis pengembangan lahan dibandingkan semester pertama tahun lalu yang sangat kuat, rugi bersih terutama disebabkan oleh biaya satu kali yang bersifat nonoperasional berupa rugi selisih kurs dan penghentian instrumen derivatif terkait refinancing Senior Notes.

BACA JUGA:Jababeka Lunasi Utang US$185,86 Juta

“Di luar pos-pos yang tidak berulang tersebut, Jababeka tetap mencatatkan laba pada tingkat operasional,” kata dia.

 

(*)