SSIA Membalikkan Keadaan, Raih Laba Bersih Rp262,6 Miliar
Setelah merugi pada semester pertama 2025, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mampu membalikkan keadaan pada enam bulan pertama tahun ini-landbank.id-capture suryacipta.com
Jakarta, landbank.co.id- Setelah merugi pada semester pertama 2025, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mampu membalikkan keadaan pada enam bulan pertama tahun ini.
Motor penggerak yang membuat kinclong emiten berkode saham SSIA di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini adalah melejitnya penjualan lahan industri.
“SSIA membukukan laba bersih sebesar Rp262,6 miliar pada semester pertama 2026, yang terutama ditopang oleh kinerja kuat segmen properti,” jelas manajemen PT Surya Semesta Internusa Tbk, Rabu, 5 Agustus 2026.
Segmen properti SSIA membukukan pendapatan sebesar Rp1,27 triliun pada Januari-Juni 2026, melejit sekitar 274 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
BACA JUGA:Pendapatan Jasa Konstruksi SSIA Bertumbuh
“Kinerja yang solid ini ditopang oleh pengakuan penjualan akuntansi (accounting sales recognition) yang kuat mencapai 64,7 hektare senilai Rp1,07 triliun dari dua proyek andalan Perseroan, yakni Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry Karawang,” urai manajemen SSIA.
Pada semester pertama 2025, penjualan tanah kawasan industri SSIA tercatat masih di level Rp167,17 miliar.
Artinya, khusus untuk segmen penjualan tanah kawasan industri, SSIA mengoleksi pertumbuhan sekitar 554 persen.
Manajemen SSIA menyatakan, segmen properti menghasilkan laba bersih sebesar Rp459,3 miliar, meningkat dibandingkan Rp44,9 miliar pada semester pertama 2025.
Di sisi lain, pada semester pertama 2026, anak usaha SSIA, PT Suryacipta Swadaya (SCS) mencatat penjualan pemasaran (marketing sales) lahan industri seluas 9,4 hektare dengan nilai Rp195,9 miliar.
BACA JUGA:Bisnis Properti Sumbang Rp545 Miliar Terhadap SSIA
Perlambatan penjualan pada enam bulan pertama 2026 dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan perusahaan-perusahaan global menunda keputusan investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI).
“Hingga semester pertama 2026, backlog penjualan lahan SCS tercatat sebesar Rp84,3 miliar, yang mewakili penjualan lahan seluas 4,1 hektare,” jelas manajemen SSIA.
Konstruksi dan Hotel
Sementara itu, segmen konstruksi SSIA juga mencatat pertumbuhan yang solid dengan laba bersih meningkat 21,1 persen year on year (yoy) menjadi Rp93,2 miliar.
SSIA merangsek bisnis konstruk melalui anak usaha, yakni PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA). Per akhir Juni 2026, NRCA membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp1,70 triliun, relatif stabil mengingat pada semester pertama 2025 juga sekitar Rp1,70 triliun.
BACA JUGA:Pendapatan Hotel SSIA Ngerem Sejenak
Sebaliknya, segmen perhotelan masih membukukan rugi bersih sebesar Rp83,8 miliar, namun kerugian tersebut membaik 20,3 persen dibandingkan rugi bersih sebesar Rp105,1 miliar pada enam bulan pertama 2025.
Perseroan juga menjelaskan bahwa sepanjang Januari-Juni 2026, pihaknya memiliki kas sebesar Rp1,09 triliun, turun 4,2% dibandingkan Rp1,14 triliun pada kuartal pertama 2026.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran bunga atas renovasi hotel Paradisus by Meliá Bali serta biaya pengembangan lahan.
Di bagian lain, utang berbunga Perseroan pada semester pertama 2026 tercatat sebesar Rp2,27 triliun, turun 3,5 persen dibandingkan Rp2,35 triliun pada kuartal pertama 2026.
Rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) SSIA pada semester pertama 2026 berada pada level 26,8 persen.
BACA JUGA:Pendapatan Tanah Kawasan Industri SSIA Melambung 385 Persen
Per akhir Juni 2026, para pemegang saham SSIA terdiri atas PT Herian Putihrai Asset Management sebesar 12,87 persen, PT Dwimuria Investama Andalan 10,24 persen, PT Arman Investments Utama 8,52 persen, Intrepid Investments Limited 8,20 persen, dan PT Persada Capital Investama 7,85 persen.
Selain itu, Johannes Suriadjaja (presiden direktur) sebanyak 0,36 persen, Sonny Satia Negara (direktur) 0,07 persen, Wilson Efendy 0,05 persen, The Jok Tung 0,05 persen, dan masyarakat 51,79 persen.
(*)