Darsono menambahkan, permintaan juga meningkat untuk ruang kantor yang dekat dengan transportasi publik moda raya terpadu (mass rapid transit/MRT) dan lintas rel terpadu (light rail transit/LRT).
“Permintaan meningkat untuk gedung perkantoran di dekat MRT dan LRT, okupansinya juga cukup tinggi,” papar dia.
Di bagian lain, tambahnya, pascapandemi Covid-19, terjadi perubahan perilaku para penyewa gedung perkantoran. Tuntutan gaya hidup sehat kian meningkat.
“Lalu, potensi gedung perkantoran yang terletak di area mixed used lebih menarik dibandingkan gedung yang berdiri sendiri mengingat di area mixed used banyak pilihan untuk kuliner, lifestyle, dan olah raga,” tutur Darsono.
Baca juga: Okupansi Green Office Nyaris 80 Persen
Dia menegaskan, milenial dan gen Z memadukan kerja dan gaya hidup.
Leads Property menilai, permintaan terhadap flex office, furnished office, co-working, serta gedung grade B yang terawat dan berada di lokasi strategis berpotensi meningkat karena efisiensi biaya.
Sementara itu, Co-Founder and Chief Executive Officer (CEO) Leads Property), Hendra Hartono, menilai, masih berlebihnya (over supply) ruang kantor di Jakarta, mirip dengan yang dialami di Shanghai, China.
“Ruang yang kosong dianggap sebagai gedung perkantoran biasa saja, tidak memberikan nilai tambah sehingga penyewa pindah ke gedung perkantoran baru yang tarif sewa lebih murah serta ramah lingkungan dan ditopang teknologi pintar,” kata Hendra, menjawab pertanyaan landbank.co.id, di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
Dia menyatakan, agar gedung perkantoran tidak kosong, di Shanghai terjadi pengalihan fungsi, yakni dibikin menjadi apartemen dengan tarif sewa murah dan full furnished.
Baca juga: Leads Property: Pasokan Perkantoran di Luar CBD Jakarta Stabil
“Ruang kantor yang kosong di Jakarta juga bisa dialihfungsikan, misalnya menjadi hotel atau service apartment yang dikelola oleh operator kredibel dan harga sewanya wajar sehingga bisa menjadi sumber pendapatan bagi pemilik Gedung,” saran Hendra.
(*)





