Jakarta, landbank.co.id– Realisasi penyaluran kredit pemilikan rumah fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (KPR FLPP) sepanjang Januari-Mei 2026 diwarnai oleh peningkatan pangsa pasar (market share) skema syariah.
Pangsa pasar skema syariah sebesar 29,48 persen dari total realisasi KPR FLPP Januari-Mei 2026, sedangkan pada periode yang sama market share skema syariah masih di level 25,48 persen.
Mengutip data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), imbas kenaikan market share syariah membuat skema konvensional turun dari semula 74,52 persen menjadi 70,52 persen.
Secara keseluruhan, realisasi KPR FLPP periode Januari-Mei 2026 terlihat turun sekitar 34 persen bila disandingkan dengan periode sama 2025.
Mengutip data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat, dalam lima bulan 2026, realisasi KPR FLPP sebanyak 64.688 rumah subsidi senilai Rp8,40 triliun.
Sebaliknya, pada periode yang sama 2025, realisasi KPR FLPP tercatat sebanyak 97.874 rumah subsidi setara sekitar Rp12,12 triliun.
Baca juga: Fakta FLPP Bank Syariah Nasional Digemari Generasi Z
Penurunan KPR FLPP secara nasional per akhir Mei 2026 itu juga mewarnai realisasi skema syariah.
Sepanjang Januari-Mei 2026, realisasi KPR FLPP skema syariah tercatat sebanyak 19.072 unit setara sekitar Rp2,35 triliun.
Angka itu lebih rendah bila disandingkan dengan periode Januari-Mei 2025 yang masih di angka 24.939 rumah subsidi setara sekitar Rp3,05 triliun.
Raja Syariah
Sementara itu, sepanjang Januari-Mei 2026, realisasi KPR FLPP syariah diwujudkan oleh 14 bank mitra BP Tapera.
Baca juga: Mengintip Penyaluran KPR FLPP Bank Syariah Indonesia
Mereka mencakup badan usaha milik negara (BUMN) dan anak usaha, bank pembangunan daerah (BPD), dan bank swasta.
Di segmen KPR FLPP syariah, dari total realisasi lima bulan 2026, posisi puncak ditempati oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).





