Penyerapan KPR FLPP di Kabupaten Bogor pada tiga bulan pertama 2026 juga turun bila dibandingkan dengan periode yang sama 2025, baik dari sisi unit maupun nilai.
Dari sisi unit, penyerapan KPR FLPP Kabupaten Bogor turun sekitar 18 persen, yakni dari sebanyak 2.073 unit menjadi 1.708 rumah subsidi, sedangkan dari sisi nilai turun sekitar 17 persen menjadi Rp228,84 miliar dari semula Rp277,48 miliar.
Di posisi ketiga terjadi pergeseran. Tahun 2026 ditempati oleh Kabupaten Karawang, Jawa Barat, sedangkan pada periode sama 2025 diduduki oleh Kabupaten Tangerang, Banten.
Baca juga: Ini 10 Kota Penyerap KPR FLPP Terbesar 2025
Realisasi penyerapan KPR FLPP di Kabupaten Karawang pada akhir Maret 2026 sebanyak 1.397 unit atau setara sekitar Rp167,83 miliar.
Bank Penyalur
Sementara itu, sepanjang Januari-Maret 2026, realisasi KPR FLPP melibatkan 36 bank penyalur, mulai dari bank milik negara, bank pembangunan daerah (BPD) hingga bank swasta.
Bank penyalur terbesar sepanjang Januari-Maret 2026 ditempati oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).
Bank pelat merah ini menyalurkan pembiayaan untuk sebanyak 21.186 unit atau setara dengan sekitar Rp2,64 triliun.
Baca juga: Milenial Menyerap Sekitar 90 Persen Penyaluran Subsidi FLPP
Sekalipun masih berada di puncak daftar bank penyalur terbesar, realisasi penyaluran KPR FLPP BTN per akhir Maret 2026 lebih rendah bila disandingkan periode sama 2025.
Penurunan terlihat dari sisi unit maupun dari sisi nilai. Dari sisi unit, turun sekitar 28 persen, yakni dari 29.485 rumah subsidi menjadi 21.186 unit.
Dari sisi nilai, BTN mencatat penurunan sekitar 28 persen menjadi Rp2,64 triliun per akhir Maret 2026 dari semula Rp3,66 triliun.
Posisi kedua terbesar masih ditempati oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN), yakni sebanyak 8.283 unit atau setara Rp1,01 triliun.
Mirip dengan BTN, realisasi penyaluran KPR FLPP BSN juga menurun. Dari sisi unit turun sekitar 29 persen mengingat per akhir Maret 2025 masih sebanyak 11.655 rumah subsidi.
Baca juga: BTN Kuasai KPR FLPP Kabupaten Bekasi
Dari sisi nilai, anak usaha BTN itu juga mencatat penurunan sekitar 29 persen karena pada akhir Maret 2025 masih di angka Rp1,42 triliun.
(*)





