Jakarta, landbank.co.id – Kasus kanker di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, Indonesia mencatat lebih dari 408 ribu kasus kanker baru dengan angka kematian mencapai lebih dari 242 ribu kasus per tahun.
Tingginya angka tersebut dinilai berkaitan dengan masih terbatasnya kapasitas layanan onkologi di Tanah Air, baik dari sisi fasilitas maupun kesiapan tenaga kesehatan.
Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady mengatakan, penguatan kualitas layanan kanker menjadi fokus penting di tengah meningkatnya kebutuhan penanganan penyakit tersebut.
Menurut Caroline, kualitas layanan kanker tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi dan fasilitas kesehatan, melainkan juga kompetensi tenaga medis yang menangani pasien.
“Siloam International Hospitals percaya bahwa kualitas layanan kanker tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan fasilitas, tetapi juga oleh kesiapan dan kompetensi tenaga kesehatannya. Karena itu, kami berkomitmen memperkuat kapabilitas klinis melalui pembelajaran berkelanjutan, kolaborasi lintas disiplin, dan koneksi dengan komunitas medis global,” ujar Caroline Riady dalam The 6th Siloam Oncology Summit 2026, Sabtu, 23 Mei 2026.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan The 6th Siloam Oncology Summit 2026 merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong standar penanganan kanker yang lebih maju agar pasien di Indonesia maupun Asia Tenggara dapat memperoleh layanan kanker berstandar internasional.
“Melalui Siloam Oncology Summit 2026, kami ingin berkontribusi dalam mendorong standar penanganan kanker yang lebih maju agar pasien di Indonesia dan Asia Tenggara dapat memperoleh layanan kanker berstandar internasional,” katanya.
Sementara itu, Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan menyampaikan bahwa perkembangan ilmu onkologi, termasuk precision oncology, menuntut kesiapan tenaga kesehatan untuk memahami pendekatan terapi yang semakin personal, berbasis biomarker, dan ditopang teknologi diagnostik yang terus berkembang.
Menurut Edy, pengembangan layanan kanker berkualitas membutuhkan proses pembelajaran berkelanjutan, adopsi teknologi, serta sinergi lintas disiplin ilmu agar sistem penanganan kanker nasional dapat terus berkembang.
“MRCCC Siloam Semanggi percaya bahwa pengembangan layanan kanker yang berkualitas membutuhkan pembelajaran berkelanjutan, adopsi teknologi, dan sinergi berbagai disiplin ilmu agar penanganan kanker di Indonesia dapat terus berkembang,” kata dr. Edy Gunawan.
Ia menambahkan, perkembangan terapi kanker modern saat ini tidak lagi hanya menitikberatkan pada peningkatan angka harapan hidup pasien, tetapi juga kualitas hidup melalui pendekatan terapi yang lebih personal dan minim efek samping.
Selain menjadi ruang pertukaran ilmiah, The 6th Siloam Oncology Summit 2026 juga mempertegas komitmen MRCCC Siloam Semanggi dalam mendukung implementasi Rencana Kanker Nasional melalui penguatan kapabilitas tenaga kesehatan, pengembangan riset dan evidence klinis, serta kolaborasi multidisiplin lintas sektor.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, MRCCC Siloam Semanggi terus mendorong transformasi layanan onkologi melalui inovasi teknologi, peningkatan kompetensi medis, serta kolaborasi strategis guna memperkuat kesiapan ekosistem onkologi nasional dalam menghadirkan layanan kanker yang lebih terintegrasi, berkualitas, dan berpusat pada pasien.
(*)





