“Sebagian besar kontribusi serapan bersih masih terjadi di perkantoran Grade A, yaitu sekitar 75 persen dari total serapan bersih selama periode ulasan,” dikutip dari riset Cushman & Wakefield.
Tarif Sewa Perkantoran
Sementara itu, per akhir Maret 2026, rata-rata tarif sewa dasar ruang perkantoran di CBD Jakarta dalam Rupiah tercatat stabil di Rp176.700/m2/bulan, mencerminkan perubahan sebesar 0,4 persen QoQ atau 2,7 persen year on year (YoY).
Dalam Dolar AS, tarif sewa dasar mengalami penurunan sebesar 1,3 persen QoQ, yang terutama disebabkan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
Baca juga: Begini Perkantoran Sewa Tahun 2026 Versi Colliers Indonesia
Di sisi lain, service charge meningkat sebesar 0,6 persen QoQ dan tercatat di Rp95.300/m2/bulan.
“Di tengah perlambatan ekonomi global yang masih berlangsung akibat dampak konflik geopolitik, khususnya konflik terbaru di Timur Tengah, permintaan ruang perkantoran di CBD Jakarta diperkirakan tetap positif sepanjang tahun 2026,” dilansir riset Cushman & Wakefield.
Tingkat hunian secara keseluruhan diproyeksikan mengalami sedikit peningkatan, seiring dengan tidak adanya tambahan pasokan baru sepanjang tahun 2026.
Baca juga: Okupansi Perkantoran Butuh Tiga Tahun untuk Pulih
Terpisah, Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, pernah mengatakan, saat ini, secara umum pasar perkantoran di Jakarta mulai bergerak dengan peningkatan permintaan terutama dari perusahaan yang melakukan relokasi.
“Namun, tingkat okupansi masih terbatas sehingga pemulihannya masih berjalan bertahap,” kata Ferry Salanto.
Hingga kuartal pertama 2026, tingkat okupansi perkantoran di CBD Jakarta sebesar 75,7 persen.
Untuk di luar CBD Jakarta, mengutip data Colliers Indonesia, tingkat okupansi perkantoran sebesar 68,7 persen.
Baca juga: Pasar Perkantoran Jakarta, JLL: Ada Tanda Awal Pemulihan
(*)





