Kawasan pusat bisnis (central business district/CBD) Jakarta mencatat Rp593.300 per meter persegi per bulan, meningkat 1,3 persen, sedangkan Jakarta di luar CBD mencatat Rp432.400 per meter persegi per bulan, meningkat 2,8 persen dari kuartal sebelumnya.
Di tengah isu geopolitik yang tidak pasti, pasar ritel Jakarta masih menunjukkan pergerakan positif, didorong oleh gaya hidup dan pola konsumsi yang berkelanjutan.
“Dengan Produk Domestik Bruto Regional (PDB) per kapita yang tinggi, sekitar USD 12.500 per tahun, Jakarta menawarkan peluang menjanjikan bagi banyak peritel, setidaknya dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Eropa,” dilansir riset Leads Property.
Baca juga: Mal Kosong 350 Ribu M2, Leads Property: Terintegrasi Transportasi Diminati
Pasar dapat mengantisipasi ekspansi merek asing lebih lanjut yang mengincar mal-mal utama dengan jumlah pengunjung tinggi.
Masih mengutip riset tersebut, karena peritel semakin selektif dalam memperluas portofolio mereka, pemilik lahan akan merespons dengan memperbarui konsep mereka.
Terutama, menyusun strategi dengan konsep gaya hidup sementara di lahan mereka akan menjadi strategi yang paling relevan untuk beradaptasi dengan tren pasar, daripada membangun mal tertutup baru.
Baca juga: Dalam Lima Tahun, Summarecon Raup Nyaris Rp8 Triliun dari Bisnis Mal
Sementara itu, pasar ritel masih mengharapkan satu mal baru beroperasi tahun ini (Lippo Mall Eastside), yang mungkin akan menekan tingkat hunian pasar ritel Jakarta untuk sementara waktu setelah selesai dibangun,” dikutip dari riset Leads Property.
(*)





