Jakarta, landbank.co.id– PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) membungkus laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp217,04 miliar pada Januari-Maret 2026.
Kondisi itu berbanding terbalik mengingat pada periode sama 2025, PT Agung Podomoro Land Tbk mencatat rugi bersih senilai Rp62,09 miliar.
Kemampuan PT Agung Podomoro Land Tbk membalikkan keadaan tidak terlepas dari moncernya pendapatan Perseroan pada tiga bulan pertama 2026.
Mengutip laporan keuangan Perseroan, emiten berkode saham APLN di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 232 persen pada kuartal pertama 2026 disandingkan dengan periode sama 2025.
Baca juga: Agung Podomoro Land Lego Saham
Bila akhir Maret 2025 masih bertengger di angka Rp874,49 miliar, pada periode yang sama tahun ini pendapatan pemilik proyek Podomoro Park Bandung, Jawa Barat ini melejit ke posisi Rp2,90 triliun.
Melambungnya pendapatan APLN ditopang oleh langkah Perseroan melego Mal Deli park Medan, Sumatera Utara senilai Rp2,20 triliun.
“Pada tanggal 8 Januari 2026, Perusahaan melalui PT Sinar Menara Deli (SMD) , entitas anak menjual 37 SHMSRS Mal Deli Park Medan kepada PT DPM Assets Indonesia (DPMAI) senilai Rp 2,20 triliun,” dikutip dari laporan keuangan APLN.
Atas transaksi penjualan tersebut, SMD menggunakan dana untuk melakukan penyertaan saham baru di DPMAI sebesar 15,00 persen.
Baca juga: Tiga Tahun Terakhir, Penjualan Apartemen APLN Merangkak Naik
Pada triwulan pertama 2026, penjualan mal itu menyumbang sekitar 76 persen terhadap total pendapatan pemilik proyek Podomoro Golf View, Bogor, Jawa Barat ini.
Kontributor kedua terbesar terhadap total pendapatan APLN per akhir Maret 2026 datang dari penjualan rumah tinggal, yakni Rp225,15 miliar atau setara sekitar 8 persen.
Penjualan rumah tinggal pemilik proyek Bukit Podomoro Jakarta ini naik sekitar 6 persen bila disandingkan dengan raihan tiga bulan pertama 2025 yang senilai Rp213,37 miliar.
Baca juga: Penjualan Rumah Agung Podomoro Land Sentuh Rp1 Triliun
Pemasukan APLN lainnya datang dari berbagai segmen di antaranya dari penjualan apartemen Rp157,88 miliar, bisnis hotel Rp140,55 miliar, dan pendapatan sewa Rp112,59 miliar.
Transisi Pemulihan
Sementara itu, memasuki tahun 2026, prospek usaha Perseroan akan sangat dipengaruhi oleh arah pemulihan perekonomian nasional dan global serta efektivitas kebijakan makroekonomi dalam mendorong permintaan domestik.





