“Hak Bertempat Tinggal”
Namun Heidegger mengajak kita masuk lebih dalam. Bukan bergerak ke samping. Melainkan masuk ke dasar.
Turun ke fondasi keberadaan.
Turun ke pertanyaan:
“Apa artinya tinggal?”
Di sini perjalanan bukan lagi horizontal. Melainkan vertikal. Bukan dari rumah ke kota. Melainkan dari ruang ke makna.
Dari tempat ke keberadaan. Dari bangunan ke kemanusiaan.
Jika Gunawan memberi kita peta. Heidegger memberi kita kedalaman.
Jika Gunawan mengajarkan bagaimana manusia berkota.
Heidegger mengingatkan mengapa manusia harus bermukim.
Maka saya mulai membayangkan sebuah sintesis.
Sebuah cara membaca konstitusi dengan tiga mata sekaligus.
Mata Heidegger.
Mata Gunawan Tjahjono.