Ciputra Bungkus Rp239,88 Miliar dari Bisnis Hotel
Bisnis hotel mendatangkan pemasukan sekitar Rp239,88 miliar terhadap PT Ciputra Development Tbk (CTRA) pada semester pertama 2026-landbank.id-hotelciputra.com
Jakarta, landbank.co.id- Bisnis hotel mendatangkan pemasukan sekitar Rp239,88 miliar terhadap PT Ciputra Development Tbk (CTRA) pada semester pertama 2026.
Pada periode itu bisnis hotel PT Ciputra Development Tbk menyumbang sekitar 5 persen terhadap total pendapatan Perseroan yang menyentuh Rp5,94 triliun.
Di tengah situasi efisiensi belanja pemerintah, bisnis hotel ikut terkena imbas. Hal itu juga terekam dari raihan pendapatan PT Ciputra Development Tbk yang turun sekitar 6 persen pada Januari-Juni 2026, mengingat pada periode sama 2025 masih mengantongi sekitar Rp254,82 miliar.
“Segmen perhotelan yang paling terdampak oleh kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dalam hal perjalanan dinas adalah hotel bintang empat ke bawah, yang dalam portofolio Perseroan adalah Hotel Ciputra dan Citradream Hotel,” kata manajemen Perseroan, dalam paparan publik beberapa waktu lalu.
BACA JUGA:Pendapatan CTRA Tumbuh, Ini Kontributor Utamanya
Namun, tambah manajemen Ciputra, Raffles Hotel (hotel bintang lima) yang memiliki basis pelanggan berbeda, dengan porsi terbesar dari segmen non-pemerintah relatif tidak terdampak.
Untuk Hotel Ciputra, jelas emiten berkode saham CTRA di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini, Perseroan melakukan strategi diversifikasi sumber pendapatan dengan mengembangkan layanan catering ke pelanggan korporasi dan institusi, termasuk Google, Mandiri University, dan beberapa rumah sakit.
Sementara itu, untuk CitraDream Hotel (hotel budget) yang sudah mengalami tekanan pasar bahkan sebelum diberlakukannya efisiensi anggaran Pemerintah, Perseroan memfokuskan strategi pada peningkatan efisiensi operasional melalui pengendalian biaya dan penyesuaian jumlah karyawan.
Dalam catatan Colliers Indonesia, selama bertahun-tahun, hotel di Jakarta sangat bergantung pada rapat, konferensi, dan berbagai acara resmi pemerintah.
Karena itu, kebijakan efisiensi fiskal telah mengurangi permintaan tersebut sehingga mendorong operator hotel memperluas sumber permintaan ke segmen perjalanan korporasi, staycation, wisata keluarga, pernikahan, berbagai kegiatan sosial, serta konsep layanan berbasis pengalaman.
BACA JUGA:Ciputra Raih Rp3,89 Triliun dari Penjualan Kaveling, Rumah, dan Ruko
"Hotel di Jakarta tidak lagi menunggu pulihnya permintaan dari sektor pemerintah. Sebaliknya, mereka kini membangun sumber pendapatan yang lebih beragam dan lebih tangguh. Dengan memperluas pasar ke segmen perjalanan korporasi, staycation, pernikahan, dan berbagai kegiatan sosial, industri perhotelan Jakarta semakin mampu mengurangi ketergantungannya pada satu sumber permintaan saja," kata Ferry Salanto, head of Research Colliers Indonesia, baru-baru ini.
Sembilan Hotel
Sementara itu, sepanjang lima tahun terakhir, khususnya untuk periode semester pertama, pendapatan bisnis hotel Ciputra terlihat cukup berfluktuasi.
CTRA yang merangsek bisnis hospitality sejak tahun 1993 lewat Ciputra Mal & Hotel Jakarta, Jakarta sempat terkena imbas ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia pada 2020.
BACA JUGA:Mayoritas Capex Ciputra untuk Pembelian Landbank, Capex 2026 Rp1 Triliun
Pada semester pertama 2020, pendapatan dari bisnis hospitality anjlok sekitar 46 persen dibandingkan periode sama 2019 yang sekitar Rp210,23 miliar.
Memasuki semester pertama 2021, pendapatan bisnis hotel CTRA naik tipis sekitar 3 persen bila disandingkan dengan periode sama 2020.
Namun, pendapatan melejit sekitar 55 persen pada enam bulan pertama 2022. Lalu, naik sekitar 29 persen pada 2023 dan tumbuh sekitar 6 persen pada 2024 serta naik tipis sekitar 2 persen pada 2025.
Namun, pada semester pertama 2026, Ciputra harus puas membukukan penurunan pendapatan dari bisnis hotel sekitar 6 persen bila disandingkan dengan periode sama 2025.
Dalam merangsek bisnis hotel, Ciputra mengusung sembilan hotel yang tersebar di sejumlah kota, yakni Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, dan Yogyakarta.
Selain mengelola sendiri, di bisnis hospitality, Perseroan juga menjalin perjanjian manajemen jangka panjang dengan Raffles Hotel dan The Ascott Limited untuk pengelolaan hotel serta serviced apartment.
BACA JUGA:Kepercayaan Investor Hotel Bali Masih Tinggi
Per akhir Juni 2026, para pemegang saham CTRA terdiri atas PT Sang Pelopor 53,31 persen, dan Harun Hajadi 0,08 persen.
Selain itu, para pemegang saham perusahaan pemilik 69 proyek perumahan ini adalah Nanik J Santoso kurang dari 0,01 persen, Tulus Santoso kurang dari 0,01 persen, Sutoto Yakobus kurang dari 0,01 persen, dan masyarakat 46,60 persen.
(*)