Knight Frank: Kondominium Segmen Premium Masih Tangguh
Knight Frank Indonesia mengungkapkan hingga semester pertama 2026, total pasokan ruang perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta telah mencapai sekitar 7 juta meter persegi (m²).--Tangkapan Layar
Jakarta, landbank.co.id - Knight Frank Indonesia mencatat pasar kondominium di Jakarta masih menunjukkan pertumbuhan pada semester pertama 2026.
Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, mengatakan resiliensi penjualan kondominium pada segmen premium menjadi faktor yang menjaga kinerja pasar meski pemulihan belum berlangsung merata.
"Resiliensi penjualan kondominium pada segmen high-end menjadi salah satu penopang utama di tengah pemulihan yang belum merata," ujar Willson dalam keterangan resminya yang diterima landank.co.id Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurutnya, untuk menjangkau pasar yang lebih luas, pengembang perlu menyusun strategi yang lebih tepat, terutama bagi segmen menengah yang hingga kini masih menjadi basis permintaan terbesar di kawasan perkotaan.
"Pengembang perlu lebih cermat dalam merancang produk, strategi harga, serta pendekatan pemasaran yang sesuai dengan segmen menengah sebagai basis permintaan terbesar saat ini. Di sisi lain, terjaganya stabilitas kondisi sosial dan ekonomi juga menjadi faktor kunci yang akan menentukan signifikansi pertumbuhan pasar residential ke depan," katanya.
Knight Frank juga mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir dinamika pasar kondominium terus mengalami perlambatan. Penjualan tahunan tercatat mengalami koreksi yang sebenarnya telah mulai terlihat bahkan sebelum pandemi Covid-19.
Meski demikian, segmen menengah atas hingga premium masih menunjukkan daya tahan yang relatif kuat. Hal itu tercermin dari lebih dari separuh pasokan baru kondominium di Jakarta yang berasal dari segmen tersebut. Bahkan sepanjang semester I 2026, seluruh pasokan baru yang masuk ke pasar merupakan proyek di segmen premium.
Di sisi lain, kondominium di pusat kota kini menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan rumah tapak di wilayah penyangga Jakarta (hinterland) maupun proyek hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) yang menjadi pilihan masyarakat, khususnya konsumen dari segmen menengah.
Oleh karena itu, Knight Frank menilai pengembang perlu merumuskan strategi baru untuk menghadirkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar menengah yang masih menjadi fondasi permintaan hunian perkotaan.
Pasokan Capai 249.107 Unit
Berdasarkan riset Knight Frank Indonesia, total pasokan kondominium di Jakarta hingga semester pertama 2026 mencapai 249.107 unit, setelah bertambah satu proyek baru yang berada di kawasan Prime Non-CBD.
Adapun tingkat penjualan kumulatif (cumulative sales rate) tercatat sebesar 96,3 persen, menunjukkan sebagian besar unit yang telah diluncurkan berhasil terserap pasar.
Dari sisi penjualan, segmen middle mendominasi dengan kontribusi 39 persen, diikuti segmen upper-middle sebesar 25 persen, dan high-end sebesar 21 persen terhadap total penjualan kumulatif.
Sementara berdasarkan wilayah pemasaran, kawasan Central Business District (CBD) dan Prime Non-CBD masih menjadi lokasi favorit bagi pengembangan kondominium kelas high-end dan upper-middle.
Harga Kondominium Naik Tipis
Knight Frank juga mencatat rata-rata harga unit kondominium baru mengalami kenaikan sekitar 1,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Di tengah kondisi pasar yang masih selektif, rata-rata penjualan stok baru meningkat tipis menjadi 55 persen, dengan sekitar 2.814 unit kondominium baru yang masih dipasarkan hingga semester pertama 2026.
Knight Frank memperkirakan pasar kondominium Jakarta masih akan bergerak secara selektif dalam beberapa waktu ke depan. Keberhasilan pengembang dalam menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, didukung stabilitas ekonomi dan sosial, akan menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan sektor hunian vertikal.
(*)