Dari sisi makroekonomi, kata manajemen Metland, Bank Indonesia memroyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen dengan inflasi yang tetap terkendali memberikan landasan yang kondusif bagi aktivitas usaha.
Lalu, stabilitas nilai tukar Rupiah, peningkatan pertumbuhan kredit, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang solid diharapkan dapat mendorong konsumsi dan investasi domestik, sehingga memberikan dukungan terhadap sektor properti.
Sejalan dengan hal tersebut, industri properti pada 2026 diperkirakan menunjukkan pemulihan secara moderat dengan pertumbuhan yang lebih selektif pada subsector strategis, seperti pergudangan, kawasan industri, hotel, serta apartemen sewa.
Selain itu, pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) dan penerapan konsep keberlanjutan, termasuk green building, turut menjadi pendorong peningkatan daya tarik pasar.
“Meski demikian, faktor seperti daya beli masyarakat, harga tanah, dan tekanan inflasi tetap menjadi perhatian dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan,” jelas Anhar Sudrajat.
Baca juga: Residensial Masih Jadi Andalan Metland
Dalam merespons peluang dan tantangan tersebut, Perseroan menetapkan arah strategi yang berfokus pada pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, penguatan daya saing kawasan, serta optimalisasi aset komersial guna menjaga kualitas pendapatan.
Perseroan juga melanjutkan inisiatif efisiensi sumber daya, pengelolaan lingkungan, serta penguatan aspek sosial melalui peningkatan kompetensi SDM, keselamatan kerja, dan kualitas layanan.
Di sisi lain, penguatan tata kelola, pengawasan internal, dan manajemen risiko keberlanjutan terus ditingkatkan untuk memastikan seluruh kegiatan usaha berjalan secara akuntabel, patuh, dan berintegritas.
“Dengan pendekatan tersebut, Perseroan optimistis dapat menjaga kinerja yang stabil sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan di tahun 2026 secara berkelanjutan,” urai Anhar Sudrajat.
Para pemegang saham Metland per akhir Desember 2025 mencakup PT Metropolitan Persada Internasional sebesar 37,52 persen dan PT Ciputra Nusantara 15,00 persen.
Baca juga: CBRE: Pasar Properti Jakarta Tumbuh pada 2026
Lalu, PT Yulie Sekuritas Tbk 7,24 persen, Iwan Putra Brasali (komisaris) 2,04 persen, Nanda Widya (komisaris) 1,06 persen, Anhar Sudrajat (presiden direktur) 0,08 persen, Olivia Surodjo (direktur) 0,04 persen, Wahyu Sulistio (direktur) 0,00 persen, Santoso (direktur) 0,00 persen, dan masyarakat 37,02 persen.
(*)





