Okupansi Perkantoran Butuh Tiga Tahun untuk Pulih

Konsultan properti Colliers Indonesia memerkirakan butuh waktu berkisar dua hingga tahun dari sekarang untuk menuju tingkat hunian alias okupansi perkantoran seperti ke posisi prapandemi Covid-19/foto: capture colliers

Lalu, dilanjut oleh gedung Indonesia One pada 2029. Pasokan ini ukurannya lebih kecil karena sebagian dialihfungsikan menjadi apartemen.

Melihat kondisi yang moderat ini, terang Ferry, pasar perkantoran di Jakarta bisa bersiap menuju fase pemulihan.

Bacaan Lainnya

Hingga kuartal pertama 2026, tambah dia, secara umum masih fase tenant market, artinya penyewa punya posisi tawar yang kuat terutama di CBD Jakarta yang paling diminati karena paket sewa semakin kompetitif.

Menariknya bahwa aktivitas mulai bergerak walau tidak nampak terlalu tinggi. Permintaan sudah mulai naik, paling dominan dari relokasi perusahaan, bukan ekspansi.

“Perusahaan tidak nambah space tapi pindah ke gedung yang lebih efisien dan berkualitas,” kata Ferry.

Baca juga: Pasokan Minim Bisa Dongkrak Okupansi Perkantoran

Sektor finansial dan teknologi masih jadi penggerak utama, namun mulai muncul permintaan baru dari bisnis gaya hidup (kesehatan dan kosmetik).

Di sisi lain, perusahaan asal China juga mulai melirik Jakarta sebagai kawasan untuk ekspansi.

 

Ruang Kosong

Sementara itu, kata Ferry, ruang perkantoran kosong di Jakarta sejak tahun 2019 hingga kuartal pertama 2026 tercatat seluas 3 juta meter persegi (m2).

“Nah, dari 3 juta meter persegi itu terlihat bahwa komposisi terbesar dari gedung kelas A dan B, masing-masing sebesar 36 persen, baik yang di CBD maupun di luar CBD Jakarta,” ujar dia.

Baca juga: Dampak Kebijakan WFH ASN Terhadap Okupansi Perkantoran

Mengutip data Colliers Indonesia, selebihnya adalah 25 persen di gedung perkantoran kelas C dan 5 persen gedung perkantoran premium.

Menurut Ferry, dengan pasok terbatas, gap supply dan demand dapat kian mengecil sehingga ruang kosong bisa mengecil, walau ini merupakan pekerjaan rumah yang cukup besar.

“Ini mulai terasa di gedung premium yang percaya diri menaikkan harga sewa. Gedung kelas A jadi alternatif utama karena kualitasnya dan tarif sewa kompetitif dan pilihannya lebih banyak,” terang Ferry.

Baca juga: Begini Perkantoran Sewa Tahun 2026 Versi Colliers Indonesia

(*)

Pos terkait