Di sisi lain, penambahan tempat tidur juga berasal dari rumah sakit baru yang mulai beroperasi. Dengan bertambahnya kapasitas tersebut, secara matematis BOR agregat dapat terlihat menurun, meskipun secara absolut jumlah pasien tetap meningkat.
Dari sisi volume, jelas manajemen MTMH, pihaknya juga mencatat peningkatan jumlah pasien baik pada layanan rawat jalan maupun rawat inap. Saat ini, JKN memang menjadi tren utama dalam sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia, dan kami pada prinsipnya tetap berkomitmen untuk melayani seluruh pasien selama kapasitas dan layanan memungkinkan.
“Ke depan, strategi kami adalah melakukan segmentasi layanan secara lebih jelas, termasuk pengembangan rumah sakit dengan fokus layanan tertentu, di mana sebagian rumah sakit dapat memiliki porsi layanan non-BPJS untuk menjaga keseimbangan portofolio dan sustainabilitas kinerja,” kata manajemen MTMH.
Saat ini, rumah sakit yang berada di bawah naungan MTMH sebanyak 11 unit yang mencakup Murni Teguh Memorial Hospital Medan, Murni Teguh Methodist Susanna Wesley, dan Murni Teguh Rosiva.
Baca juga: Tambah Rumah Sakit, Laba Medikaloka Hermina Melejit
Selain itu, Murni Teguh Pematang Siantar, Murni Teguh Horas Insani, Murni Teguh Eria Pekanbaru, Murni Teguh Ciledug Tangerang, Murni Teguh Sudirman Jakarta, Murni Teguh Pejaten Jakarta, Murni Teguh Haripan Bandung, dan Murni Teguh Tuban Bali.
Sementara itu, pada 2025, pendapatan MTMH tercatat sebesar Rp1,36 triliun dengan laba bersih sebesar Rp43,1 miliar.
Tahun 2026, MTMH membidik target pertumbuhan pendapatan dan laba sebesar 20 persen dibandingkan dengan setahun sebelumnya.
Baca juga: Operasikan 41 Rumah Sakit, Siloam Berencana Tambah di Kemang dan Manyar
(*)





