Kepercayaan Investor Hotel Bali Masih Tinggi
Kepercayaan investor terhadap bisnis hotel di Bali masih tinggi. Mayoritas dari investor merangsek ke segmen hotel mewah berskala bintang lima-landbank.id-landbank.id
Jakarta, landbank.id- Kepercayaan investor terhadap bisnis hotel di Bali masih cukup tinggi. Tidak tanggung-tanggung, mayoritas dari mereka merangsek ke segmen hotel mewah berskala bintang lima.
Isyarat itu mencuat dari bergulirnya 11 proyek yang tengah merangsek Pulau Dewata. Mengutip data Colliers Indonesia, pembangunan ke-11 hotel itu ditaksir rampung dalam rentang tahun 2026 hingga 2029.
“Kepercayaan investor terhadap segmen hotel mewah tetap tinggi. Hingga 2029, diperkirakan hadir sekitar 1.700 kamar baru yang sebagian besar berasal dari proyek hotel bintang lima,” dilansir riset Colliers Indonesia, dikutip Sabtu, 1 Agustus 2026.
Mengutip data Colliers Indonesia, sejatinya dalam rentang 2026-2029, terdapat 14 proyek hotel di Bali, namun tiga di antaranya telah dibuka sepanjang semester pertama 2026.
BACA JUGA:Masih Ada 11 Hotel yang Mau Masuk Bali, Ini Daftarnya
Dari 14 proyek hotel itu terselip satu hotel level bintang empat, selebihnya adalah hotel bintang lima yang mayoritas, yakni sekitar 43 persen diperkirakan rampung pada 2027.
Proyek hotel mewah itu antara lain adalah Vasa Hotel Ubud, Waldorf Astoria Bali, JW Marriott Ubud Hotel & Spa, The Apurva Kempinski Ubud, dan Elle Resort & Beach Club by Cross Collection.
Salah satu investor yang tengah membangun hotel mewah di Bali, yakni PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) alias Tanrise Property menjelaskan bahwa peletakan batu pertama (groundbreaking) sebagai tanda dimulainya pembangunan proyek Vasa Ubud bergulir Jumat, 17 Juli 2026.
Pembangunan proyek hospitality Vasa Ubud yang ditaksir memiliki nilai tak kurang dari Rp1 triliun itu ditargetkan rampung dalam 30 bulan.
BACA JUGA:Daftar Hotel Masuk ke Bali 2026
Vasa Ubud yang berdiri di atas lahan seluas 7,39 hektare itu akan menghadirkan 41 unit private luxury villas dan 128 kamar hotel bergaya sanctuary dengan ukuran sangat luas mulai dari 48 m².
“Pembangunan Vasa Ubud sebagai langkah ekspansi masif dari Perseroan dan pengembangan proyek ini merupakan bagian dari upaya menciptakan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan sesuai dengan strategi bisnis jangka panjang Perseroan,” urai Go Herliani Prayogo, corporate secretary PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.
Keberlanjutan Jangka Panjang
Sementara itu, Colliers Indonesia menyebutkan bahwa perkembangan kebijakan terbaru di Bali juga mencerminkan dorongan menuju investasi yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Fokus industri kini bergeser pada penciptaan nilai, kualitas destinasi, dan keberlanjutan jangka panjang.
BACA JUGA:Pekan Kesenian Bali 2026 Ditargetkan Tembus 1,6 Juta Pengunjung
Berbeda dengan Jakarta, tantangan utama Bali bukan lagi memulihkan permintaan, melainkan mengoptimalkan nilai ekonomi yang dihasilkan sektor pariwisata.
Karena itu, hotel semakin menyasar wisatawan dengan daya belanja lebih tinggi, bukan sekadar mengejar peningkatan jumlah pengunjung.
“Fase pertumbuhan Bali berikutnya akan ditentukan oleh nilai yang dihasilkan setiap tamu, bukan oleh banyaknya wisatawan,” jelas Ferry Salanto, head of Research Colliers Indonesia, dikutip Sabtu, 1 Agustus 2026.
Colliers Indonesia menegaskan, Bali terus mendapat kepercayaan tinggi dari para investor, terutama pada segmen hotel mewah.
Pengembangan hotel di masa mendatang juga masih didominasi oleh proyek-proyek bintang lima, yang mencerminkan keyakinan investor terhadap kemampuan Bali dalam menarik wisatawan internasional dengan daya belanja lebih tinggi yang mencari layanan wellness, gaya hidup, dan pengalaman berwisata yang lebih berkualitas.
BACA JUGA:Tanrise Property Terus Ekspansi, Garap Vasa Ubud Rp1 Triliun
Pergeseran menuju investasi pariwisata yang lebih selektif diperkirakan semakin memerkuat posisi Bali sebagai destinasi premium yang mengedepankan kualitas pengalaman, penciptaan nilai, serta keberlanjutan jangka panjang.
“Hotel yang mampu menghadirkan pengalaman berbeda dan menarik tamu dengan potensi belanja lebih tinggi akan lebih siap menjaga kinerja jangka Panjang,” kata Ferry.
(*)