Meski demikian, Andy mengingatkan bahwa potensi koreksi teknikal tetap ada setelah reli panjang. Jika momentum melemah, harga emas berpotensi turun ke kisaran US$3.962, yang menjadi batas bawah untuk menguji kekuatan pembeli di pasar.
Reli emas tak lepas dari kekhawatiran pasar atas shutdown pemerintah AS yang kini memasuki minggu kedua. Kebuntuan politik di Washington telah menunda publikasi sejumlah data ekonomi penting, termasuk laporan ketenagakerjaan bulanan (Nonfarm Payrolls/NFP).
Kondisi ini diperburuk oleh meningkatnya risiko geopolitik di Eropa dan Asia. Di Jepang, kemenangan mengejutkan Sanae Takaichi dalam pemilihan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) menimbulkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan Bank of Japan (BoJ)
Sementara di Prancis, pengunduran diri Perdana Menteri Sebastien Lecornu hanya beberapa jam setelah pelantikan kabinet barunya memperburuk krisis politik di kawasan Euro.
Pasar kini menanti risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dirilis Kamis (9/10) dini hari waktu Indonesia. Menurut alat pemantau CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) pada pertemuan The Fed bulan Oktober mencapai sekitar 83%, dengan peluang tambahan penurunan pada Desember mendekati 80%.
Kebijakan moneter yang lebih longgar akan menekan imbal hasil dolar AS, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (store of value) di tengah ketidakpastian global.
“Selama tekanan beli masih mendominasi dan dolar AS tidak mengalami pembalikan yang signifikan, emas berpotensi memperpanjang reli menuju rekor baru di atas US$4.000,” pungkas Andy Nugraha.
(*)





