Indonesia Bidik Investasi Pariwisata Rp63,5 Triliun

Kementerian Pariwasata menyebutkan bahwa Indonesia menargetkan realisasi sektor pariwisata nasional mencapai sebanyak Rp63,5 triliun pada 2026/foto: kemenpar

“Ada tren-tren yang sedang berkembang di market yang nanti larinya ke produk wisata. Jadi bagaimana dalam membentuk produk wisata, mengaitkan potensi yang ada di daerah dengan tren tersebut,” papar Rizki.

 

Bacaan Lainnya

Pergerakan Wisatawan

Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menjelaskan kondisi global saat ini turut memengaruhi pergerakan wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa, Timur Tengah, dan Amerika. Eskalasi konflik geopolitik, termasuk di Timur Tengah, berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan harga tiket penerbangan.

Meski demikian, Kemenpar tetap optimistis terhadap prospek pariwisata Indonesia.

“Tapi dari kami di pemasaran harus tetap optimistis dan positif. Di setiap krisis pasti selalu ada peluang. Tidak hanya bertahan tetapi juga accelerated,” ujar Made.

Baca juga: 2025, Realisasi Investasi Pariwisata Nyaris Rp74 Triliun

Berdasarkan laporan Amadeus pada periode Maret–Juni 2026, pemesanan tiket penerbangan global meningkat 4 persen. Hal tersebut menunjukkan minat masyarakat dunia untuk bepergian masih kuat, meski terjadi perubahan pola perjalanan ke destinasi alternatif selain Eropa. Tren wisatawan short-haul dan intra-Asia juga semakin menguat.

“Kita pivot ke koridor aman. Koridor amannya adalah ASEAN, Asia Timur, Jepang, Korea, Tiongkok, kemudian Oceania seperti New Zealand, dan Australia. Pasar tetangga, itulah yang kami lakukan. Meski pasar Eropa, Timur Tengah, dan Amerika tetap penting karena ASPA mereka tinggi,” ujarnya.

Made menambahkan, wisata berbasis olah raga dan kesehatan dengan pengalaman yang lebih personal kini menjadi segmen yang berkembang pesat.

Untuk mendukung promosi digital, Kemenpar juga telah memperbarui situs indonesia.travel dengan menghadirkan platform kecerdasan buatan bernama MaiA yang membantu wisatawan menemukan inspirasi perjalanan, menyusun rute, hingga memperoleh informasi wisata secara lebih mudah dan nyaman.

Baca juga: Lima Strategi Pariwisata di Tengah Dinamika Geopolitik Global

“Kami ingin mengajak pemerintah daerah, asosiasi, dan industri untuk berkolaborasi. Penting bagi kita untuk bisa memaksimalkan digital promotion,” kata Made.

Sementara itu, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar, Martini Mohamad Paham, menekankan pentingnya penguatan aspek keamanan, keselamatan, dan kenyamanan wisatawan sebagai fondasi utama pariwisata berkualitas.

“Ini pekerjaan rumah yang sangat relate dengan kita sebagai penyedia jasa wisata yaitu kita sebagai SDM-nya,” ujar Martini.

Kemenpar telah menyiapkan berbagai modul pelatihan keselamatan wisata untuk aktivitas berisiko tinggi seperti wisata gunung, wisata tirta, arung jeram, hingga snorkeling. Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan asosiasi, akademisi, dan praktisi pariwisata, serta diperkuat melalui pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi profesi.

Baca juga: Kunjungan Wisman Tumbuh 8,62 Persen, Menpar: Kepercayaan Global Kuat

Kemenpar juga menjalankan program tugas pembantuan bagi pemandu wisata gunung dan wisata tirta dengan memberikan pelatihan keselamatan wisata kepada 30 peserta di 38 provinsi.

“Ke-30 orang itu diharapkan dapat berbagi ilmunya ke orang lain,” ujar dia.

 

(*)

Pos terkait