Hotel yang mampu memanfaatkan rebranding secara efektif, mengoptimalkan operasional, dan mengidentifikasi segmen permintaan baru akan lebih mampu menjaga kinerja serta menghadapi tantangan pasar yang terus berkembang.
“Beberapa temuan utama dari fenomena rebranding hotel ini mencakup pergeseran dari volume ke profitabilitas, peningkatan nilai aset, reposisi melalui konsep yang diperbarui, serta adaptasi terhadap pola permintaan yang terus berubah,” tutur Ferry Salanto, head of Research Colliers Indonesia dikutip Minggu, 28 Juni 2026.
Menurut Colliers Indonesia, prospek pasar hotel Bali pada 2026 tetap menantang dan perlu diwaspadai.
Ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan, langkah-langkah efisiensi pengeluaran pemerintah, dan meningkatnya persaingan dari destinasi alternatif diperkirakan terus memengaruhi kinerja pasar.
Baca juga: Okupansi Hotel di Badung Bali Sentuh 80 Persen
Namun, masih mengutip riset Colliers Indonesia, Bali mempertahankan fundamental yang kuat sebagai destinasi wisata global. Pulau ini terus mendapatkan manfaat dari pertama, reputasinya sebagai destinasi pernikahan utama (termasuk pernikahan India berskala besar dan pernikahan butik).
Lalu, daya tarik yang kuat di segmen perjalanan mewah dan berbasis pengalaman.
Selain itu, mendapat manfaat dari merek global yang mapan sebagai destinasi gaya hidup dan budaya.
Baca juga: Pesta Kesenian Bali Ikut Kerek Okupansi Hotel
Daftar hotel masuk Bali 2026;
1). Alaya Suites Ubud: 70 kamar (bintang lima)
2). Hotel Canggu Kho: 39 kamar (bintang tiga)
3). JW Marriot Ubud Hotel & Spa: 101 kamar (bintang lima)
4). Vasa Hotel Canggu: 200 kamar (bintang lima)
5). KARV Hotel Bali Jimbaran: 200 kamar (bintang lima)
Sumber: Colliers Indonesia, 2026
Baca juga: Bali Destinasi Wisata Nomor Wahid Dunia 2026
(*)





