Kondisi serupa terjadi pada Januari-Maret 2023. Ketika itu, nilai penjualan minus 9,8 persen ke level Rp1,65 triliun, sedangkan volume melemah 1,8 persen ke angka 2.529 rumah.
Bagai tradisi, potret serupa tercipta pada tiga bulan pertama 2024, yakni nilai penjualan rumah turun 2,4 persen menjadi Rp2,44 triliun, sedangkan volume minus 10,8 persen ke posisi 2.738 unit.
Lagi-lagi, tradisi kuartal pertama kembali terjadi pada 2025. Bahkan, pada Januari-Maret 2025, nilai penjualan ambles sekitar 33,2 persen menjadi Rp1,94 triliun, begitu juga dari segi unit dengan tingkat kemerosotan sebesar 23,9 persen menjadi 1.801 rumah.
Prediksi 2026
IPW menyebutkan bahwa pasar perumahan secara umum diperkirakan masih terus melambat sampai triwulan kedua tahun 2026.
Baca juga: Penjualan Rumah di Jabodebek-Banten Sentuh Rp4,11 Triliun
Pada semester kedua 2026, meskipun masih dibayangi dengan ancaman ketidakpastian ekonomi dan perubahan geopolitik global, diperkirakan pasar perumahan tetap menunjukkan eskalasi pertumbuhan meskipun masih akan landai.
Para pengembang menengah akan bersaing ketat dengan pengembang besar yang masuk ke pasar rumah segmen menengah.
“Program PPN DTP masih menjadi faktor strategis untuk dapat meningkatkan minat penjualan,” dikutip dari riset IPW.
IPW menilai, para pengembang properti berkejaran dengan waktu sampai program insentif pajak itu berakhir pada penghujung 2027 dengan asumsi tidak ada perpanjangan.
“Pemerintah sebaiknya dapat mempertimbangkan program ini untuk berlaku seterusnya,” dikutip dari riset IPW.
Baca juga: Bisnis Rumah Tapak Jabodetabek Terus Berkembang
IPW menyatakan bahwa tren pasar yang terekam pada Januari-Maret 2026 berdasarkan sampling 73 proyek perumahan nonsubsidi di Jabodebek Banten.
Sampling itu diperkirakan mewakili sebesar 62,3 persen dari keseluruhan pasar perumahan di Jabodebek Banten pada periode itu.
(*)





