Khusus untuk tahap awal pengembangan di kawasan Manggarai, proyek akan dibangun di atas lahan sekitar 2,2 hektare dengan pembangunan tiga tower pertama. Selanjutnya proyek dilanjutkan di area sekitar 1,6 hektare untuk pengembangan delapan tower hunian vertikal dengan total sekitar 5.000 unit.
Kawasan TOD Manggarai berada di salah satu simpul transportasi terbesar di Indonesia yang terhubung langsung dengan KRL Commuter Line lintas Jabodetabek, kereta bandara, LRT, Transjakarta, hingga akses menuju MRT Jakarta dan pusat bisnis seperti Sudirman, Thamrin, dan Kuningan.
Saat ini jumlah pengguna transportasi yang keluar masuk kawasan Manggarai mencapai sekitar 300 ribu orang per hari.
Hunian yang dikembangkan terdiri atas tipe 2-bedroom dengan ukuran sekitar 45 meter persegi hingga 54 meter persegi agar lebih layak bagi keluarga muda dan keluarga bertumbuh.
Harga unit diproyeksikan mulai dari sekitar Rp500 jutaan untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sedangkan unit nonsubsidi dipasarkan mulai kisaran Rp700 jutaan hingga di atas Rp1 miliar tergantung tipe dan lokasi tower.
Baca juga: Mengintip TOD Pertama di CBD Jakarta yang Punya Terowongan Bawah Tanah
Untuk mendukung keterjangkauan masyarakat, BTN menyiapkan fasilitas KPR Rumah Susun FLPP dengan suku bunga tetap 6 persen per tahun dan tenor hingga 30 tahun. Dengan skema tersebut, masyarakat dapat memiliki hunian vertikal di pusat kota dengan uang muka mulai 1 persen dan estimasi angsuran sekitar Rp2,9 jutaan per bulan untuk unit seharga Rp500 juta.
Program tersebut ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan maksimal Rp12 juta per bulan untuk lajang dan Rp14 juta per bulan bagi yang sudah menikah.
Selain KPR bagi konsumen akhir, BTN juga menyiapkan dukungan pembiayaan melalui skema Kredit Program Perumahan (KPP) untuk mendukung ekosistem usaha di kawasan hunian, termasuk pelaku UMKM perorangan.
Melalui skema tersebut, BTN menyediakan pembiayaan mulai Rp10 juta hingga Rp500 juta untuk pembelian, pembangunan, maupun renovasi rumah yang sekaligus mendukung kegiatan usaha masyarakat.
Menurut Bobby, proyek tersebut diharapkan dapat menjadi solusi atas tingginya biaya transportasi pekerja yang selama ini tinggal di luar Jakarta namun bekerja di pusat kota.
Baca juga: NIM Menguat ke 4 Persen, BTN Siap Tancap Gas Pada 2026
“Hari ini banyak masyarakat tinggal di luar Jakarta karena harga rumah di pusat kota sulit dijangkau. Padahal biaya transportasi dan mobilitas setiap harinya juga sangat besar. Karena itu kami ingin menghadirkan alternatif hunian yang lebih dekat, lebih efisien, dan tetap terjangkau,” tutur Bobby.
Selain di Manggarai, KAI dan BTN juga berkolaborasi untuk pengembangan proyek serupa di kawasan Kiaracondong (Jawa Barat), Gubeng (Jawa Timur), dan Semarang (Jawa Tengah).
Bila di TOD Manggarai sekitar 2.200 unit, di Stasiun Kiaracondong Bandung sekitar 753 unit, kawasan Dr. Kariadi/Gergaji Semarang sekitar 1.042 unit, dan kawasan Stasiun Gubeng Surabaya sekitar 1.489 unit.
Dalam kerja sama ini, KAI melalui anak usahanya, KAI Properti menyiapkan sejumlah aset strategis untuk pengembangan hunian TOD dengan total potensi lebih dari 5.400 unit hunian.
BTN dalam kerja sama ini akan mendukung pembiayaan konstruksi, fasilitas KPR, serta pengelolaan demand pipeline management.
Baca juga: BTN Tambah Mitra Pengembang Rumah Subsidi 33 Persen
Kolaborasi kedua BUMN tersebut juga bertujuan mendukung Program Tiga Juta Rumah yang digulirkan oleh pemerintah.
Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding/MoU) pengembangan TOD antara kedua BUMN ini diteken oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin di Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026.
(*)





