“Sekaligus tetap menarik bagi wisatawan yang mengutamakan kenyamanan dan kemudahan,” jelas Ilkin Ilyaszade.
Permintaan Domestik
Sementara itu, riset Colliers Indonesia menyebutkan bahwa dinamika pembukaan dan penutupan hotel telah mengakibatkan pasokan hotel total yang relatif stagnan di Surabaya selama lima tahun terakhir. Hal ini mencerminkan sifat volatilitas pengembangan hotel di kota ini, di mana penutupan satu properti sering diimbangi oleh pembukaan properti lain.
Pada 2025, dua hotel bintang 4—Excotel Design Hotel Surabaya dan Aloft Hotel Surabaya—mulai beroperasi, menambah sekitar 340 kamar baru ke pasar. Dengan penambahan ini, hotel bintang 4 menyumbang sekitar 38,5 persen dari total pasokan hotel di Surabaya pada tahun 2025. Didukung sebagian besar oleh permintaan pemerintah dan domestik, yang biasanya sangat sensitif terhadap harga, segmen bintang 4 terus mencatat permintaan yang kuat.
Baca juga: Sejenak Berkenalan dengan Hotel Lamora Kota Lama Surabaya
Di sisi lain, hotel bintang 5 menyumbang sekitar 23,9 persen dari total pasokan hotel di kota ini.
Pasar hotel Surabaya terus didominasi oleh permintaan domestik, khususnya dari sektor pemerintah. Namun, kedatangan wisatawan internasional meningkat selama tahun 2024-2025, dengan pertumbuhan yang signifikan dari Tiongkok setelah diperkenalkannya penerbangan langsung antara Tiongkok dan Surabaya. Melalui Bandara Internasional Juanda, para wisatawan ini juga dapat mengakses destinasi di luar kota.
Permintaan korporat internasional cenderung lebih menyukai akomodasi jangka panjang dan terutama terkonsentrasi di Surabaya Barat dan Tengah, di mana akses jalan tol merupakan pertimbangan utama. Berdasarkan tren pertumbuhan saat ini, kedatangan wisatawan dari Tiongkok pada 2025 diperkirakan melebihi level tahun 2024 dan terus meningkat hingga tahun 2026.
Baca juga: Swiss-Belhotel International Terus Gulirkan Ekspansi
(*)





