Pendapatan Usaha BSDE Turun 26 Persen
Pendapatan usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) turun sekitar 26 persen sepanjang semester pertama 2026 disandingkan periode yang sama 2025-landbank.id-landbank.id
Jakarta, landbank.id- Pendapatan usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) turun sekitar 26 persen sepanjang semester pertama 2026 disandingkan periode yang sama 2025.
Mengutip laporan keuangan Perseroan, pendapatan usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk pada periode Januari-Juni 2026 sekitar Rp4,75 triliun.
Sebaliknya, PT Bumi Serpong Damai Tbk yang mengusung kode saham BSDE di Bursa Efek Indonesia (BEI), mengoleksi pendapatan usaha sebesar Rp6,39 triliun pada periode enam bulan pertama 2025.
Kelompok usaha Sinar Mas Land (SML) ini menyebutkan bahwa kontribusi terbesar pendapatan usaha BSDE per akhir Juni 2026 masih berasal dari pendapatan penjualan (development revenue) yang mencapai sekitar 79 persen dari total pendapatan usaha.
Lalu, sebesar 21 persen lainnya berasal dari pendapatan berulang (recurring revenue) yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.
BACA JUGA:Permintaan Residensial Tangguh, BSDE Raih Marketing Sales Rp2,54 Triliun
Di tengah normalisasi pengakuan pendapatan penjualan, BSDE tetap berhasil menjaga kualitas pendapatan usaha melalui diversifikasi sumber pendapatan dan peningkatan profitabilitas.
Sepanjang enam bulan pertama tahun 2026, BSDE membukukan laba kotor sebesar Rp3,16 triliun dengan marjin laba kotor meningkat menjadi 67 persen, dibandingkan 64 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan marjin tersebut menunjukkan keberhasilan BSDE dalam mengoptimalkan komposisi pendapatan usaha, didukung oleh pertumbuhan kontribusi dari segmen pendapatan berulang.
Di sisi lain, marjin laba kotor juga meningkat pada seluruh segmen, baik pendapatan penjualan maupun pendapatan berulang, mencerminkan efektivitas strategi BSDE dalam menjaga efisiensi operasional dan kualitas pengembangan proyek.
"Semester I–2026 menunjukkan semakin kuatnya kualitas Pendapatan Usaha BSDE melalui diversifikasi sumber pendapatan,” terang Hermawan Wijaya, direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk dalam keterangan tertulis dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.
BACA JUGA:Prapenjualan BSDE 10 Tahun Terakhir
Dia menambahkan, pertumbuhan pendapatan berulang yang konsisten, disertai peningkatan profitabilitas, mencerminkan fundamental operasional BSDE tetap solid, meskipun pengakuan pendapatan penjualan mengalami normalisasi dibandingkan tahun sebelumnya.
Kontributor utama pendapatan usaha masih BSDE berasal dari pendapatan penjualan (development revenue) sebesar Rp3,75 triliun, yang didukung oleh penjualan produk residensial, lahan dan komersial.
Segmen komersial mencatatkan pendapatan sebesar Rp1,59 triliun, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama berasal dari pengakuan penjualan ruko West Village, Northridge Ultimate dan Delrey Business Townhouse di BSD City.
Stabilnya kontribusi segmen komersial menunjukkan permintaan terhadap produk komersial di kawasan township BSDE yang tetap terjaga.
Sementara itu, pendapatan berulang (recurring revenue) tumbuh 19 persen secara tahunan menjadi Rp1,00 triliun, didukung oleh peningkatan pendapatan sewa, pengelolaan gedung, telekomunikasi, hotel, arena rekreasi serta jalan tol.
BACA JUGA:Deretan Residensial Pendulang Cuan BSDE
Pertumbuhan ini semakin memperkuat kualitas pendapatan isaha BSDE yang berasal dari properti investasi dan kawasan terpadu yang telah berkembang, sekaligus memberikan stabilitas terhadap kinerja BSDE di tengah dinamika siklus industri properti.
Pendapatan sewa meningkat 19 persen menjadi Rp592 miliar, didukung oleh pertumbuhan penyewaan ruang kantor maupun pusat perbelanjaan.
Portofolio properti investasi BSDE yang terus berkembang dan dikelola dengan baik menjadi fondasi pertumbuhan recurring revenue secara berkelanjutan.
Aset Meningkat
Di sisi lain, sepanjang kuartal kedua 2026, jumlah aset BSDE meningkat menjadi Rp81,94 triliun, naik sekitar 3 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp79,27 triliun, dengan posisi kas dan setara kas mencapai Rp8,46 triliun.
BSDE juga mencatat persediaan sebesar Rp19,56 triliun, serta didukung oleh tanah yang belum dikembangkan sebesar Rp18,64 triliun.
BACA JUGA:Ini Alasan BSDE Masuk Fortune Indonesia 100
BSDE terus memperkuat land bank sebagai strategi menjaga keberlanjutan pipeline proyek dalam jangka panjang.
Struktur permodalan juga tetap berada pada level yang sehat dengan Gross Debt-to-Equity sebesar 35 persen dan Net Debt-to-Equity Ratio (DER) sebesar 16,4 persen.
Struktur permodalan yang sehat memberikan fleksibilitas bagi BSDE untuk mendukung ekspansi, pengembangan kawasan terpadu, serta menangkap peluang investasi pada masa mendatang.
Selain itu, BSDE mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp3,25 triliun, yang sebagian besar digunakan untuk akuisisi lahan senilai Rp2,51 triliun sebagai bagian dari strategi memperkuat pipeline pengembangan proyek-proyek masa depan.
Sementara itu, memasuki semester kedua 2026, BSDE tetap optimistis terhadap prospek industri properti nasional yang didukung oleh kebutuhan hunian yang masih tinggi, pengembangan kawasan terpadu, serta semakin bertumbuhnya kontribusi pendapatan berulang.
BSDE akan terus berfokus pada pengembangan proyek-proyek unggulan, memperkuat monetisasi properti investasi, menjaga disiplin pengelolaan biaya, serta meningkatkan nilai tambah ekosistem township yang telah menjadi keunggulan kompetitif BSDE.
BACA JUGA:Pengembangan Kawasan Hiera BSD City Diakui Dunia, Sabet Penghargaan Properti Bergengsi Asia Pasifik
Menurut Hermawan, pihaknya meyakini bahwa fundamental BSDE yang kuat, didukung oleh cadangan lahan strategis, portofolio proyek yang berkualitas, serta kontribusi pendapatan berulang yang terus bertumbuh, akan menjadi fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
“Ke depan, BSDE terus mengedepankan inovasi, efisiensi operasional, serta pengembangan kawasan terpadu yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan,” tutur Hermawan.
(*)