Penjualan Mal Bikin Kinerja APLN Kinclong

Penjualan Mal Bikin Kinerja APLN Kinclong

Selain penjualan mal, sumber pendapatan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) semester pertama 2026 juga ditopang oleh penjualan rumah tinggal-landbank.id-podomoropark-bdg.com

Jakarta, landbank.co.id- Penjualan mal membuat kinerja PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) terlihat kinclong pada periode Januari-Juni 2026.

Mengutip laporan keuangan Perseroan, emiten properti berkode saham APLN di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini mencatat penjualan pusat perbelanjaan senilai Rp2,20 triliun.

Penjualan mal menyumbang sekitar 59 persen terhadap total pendapatan APLN pada semester pertama 2026 yang menyentuh sekitar Rp3,66 triliun.

Pemasukan Rp2,20 triliun itu datang dari penjualan Mal Deli Park Medan yang dikembangkan oleh anak usaha Perseroan, yakni SMD.

Pada 8 Januari 2026, SMD melego Mal Deli Park Medan, Sumatera Utara kepada PT DPM Assets Indonesia alias DPMAI.

BACA JUGA:Ini Dampak Penjualan Mal bagi APLN

"Transaksi penjualan dengan DPMAI pada tanggal 8 Januari 2026 merupakan penjualan kepada pelanggan individual yang melebihi 10 persen dari penjualan dan pendapatan neto," dilansir laporan keuangan APLN, dikutip Jumat, 31 Juli 2026.

Seiring dilepasnya Mal Deli Park Medan, jumlah pusat perelanjaan milik APLN berkurang menjadi lima unit, yakni mencakup Emporium Pluit, Kuningan City, Baywalk, Festival Citylink, dan Plaza Balikpapan.

Per akhir 2025, Emporium Pluit yang berkapasitas bersis (net leaseable area/NLA) 63.681 meter persegi (m2) mencatat tingkat okupansi paling tinggi, yakni 91 persen.

BACA JUGA:Ini Pemanfaatan Mayoritas Laba Bersih APLN

Sebaliknya, Baywalk yang memiliki NLA 54.401 m2 mengoleksi okupansi paling rendah, yaitu 72 persen per akhir Desember 2025.

 

Laba Melejit

Pundi-pundi APLN sepanjang enam bulan pertama 2026 juga ditopang oleh penjualan rumah tinggal, yakni sekitar Rp537,40 miliar. Bahkan, penjualan rumah tinggal membukukan kenaikan sekitar 8 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama 2025.

Porsi penjualan rumah tinggal tercatat sekitar 15 persen terhadap total pendapatan APLN untuk periode semester pertama 2026.

Salah satu pengembangan rumah tinggal milik APLN terletak di dalam proyek Podomoro Park Bandung, Jawa Barat sejak 2018 dengan area seluas 115 hektare (ha).

BACA JUGA:Penjualan Rumah APLN Naik 8 Persen

Dalam pengembangan rumah tinggal di proyek itu Perseroan menggulirkan kolaborasi antara Podomoro Park Bandung, PT Shimizu Pembangunan Pratama, serta enam mitra bank nasional, khususnya dalam mengembangkan Millennial Home Japanese Style.

Di luar penjualan rumah tinggal, kantong APLN juga mendapat injeksi pemasukan dari bisnis hotel sekitar Rp317,80 miliar, penjualan apartemen Rp278,88 miliar, dan dari pendapatan sewa senilai Rp219,48 miliar.

Secara keseluruhan, penjualan dan pendapatan usaha APLN melambung sekitar 118 persen sepanjang semester pertama 2026 disandingkan periode sama 2025.

Mengutip laporan keuangan Perseroan, per akhir Juni 2025, penjualan dan pendapatan usaha APLN sekitar Rp1,69 triliun, sedangkan pada semester pertama tahun ini melejit ke posisi Rp3,66 triliun.

Seiring lonjakan penjualan dan pendapatan usaha itu APLN mampu membalikkan keadaan, yakni dari mengoleksi rugi bersih Rp108,82 miliar pada enam bulan pertama 2025 menjadi laba bersih sekitar Rp184,69 miliar per akhir Juni 2026.

BACA JUGA:Jual Mal, APLN Perkuat Kas dan Likuiditas 

APLN mengoleksi aset sekitar Rp24,15 triliun untuk periode per akhir Juni 2026, sedangkan pada akhir Desember 2025, jumlah aset pengembang properti ini masih di level Rp24,95 triliun.

Penurunan juga tercatat di lini liabilitas. Bila per akhir 2025 masih di posisi Rp11,28 triliun, kini per akhir Juni 2026 menempati level Rp10,37 triliun.

Sebaliknya, ekuitas APLN naik dari semula Rp13,67 triliun pada akhir Desember 2025 menjadi sekitar Rp13,78 triliun pada semester pertama 2026.

BACA JUGA:APLN Incar Marketing Sales Rp1,5 Triliun 

Sementara itu, para pemegang saham APLN per akhir Juni 2026 terdiri atas PT Indofica sebesar 82,72 persen, Trihatma Kusuma Haliman 5,00 persen, direksi dan komisaris APLN 0,02 persen, dan masyarakat 12,26 persen.

 

(*)