Jakarta, landbank.co.id– Banda Aceh didapuk sebagai tuan rumah konferensi International Disaster Resilience Workshop & Conference 2026 bertema Rethinking Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3), baru-baru ini.
Konferensi yang digulirkan oleh Union Internationale des Architectes (UIA) atau Persatuan Aristek Internasional itu merupakan kali pertama berlangsung di Indonesia.
“Ini merupakan acara UIA pertama yang diselenggarakan di Republik Indonesia, tepatnya di Banda Aceh, kota dengan yang dikenal dengan ketangguhannya,” tutur Executive Chair & Convenor of the UIA Natural and Human Disasters Work Programme Region IV, Aimee Roslan dalam siaran pers, dikutip Minggu 19 April 2026.
Banda Aceh ditunjuk sebagai tuan rumah tanpa proses bidding. Keputusan ini mempertimbangkan posisi Aceh sebagai contoh nyata praktik ketangguhan dan pembangunan kembali pascabencana yang diakui secara internasional.
Dia menambahkan, menjadi tanggung jawab yang bermakna untuk menjadi tuan rumah konferensi ini di Banda Aceh, Indonesia.
“Kota ini merupakan bukti nyata ketangguhan sekaligus laboratorium hidup dalam menghadapi dan beradaptasi terhadap bencana alam maupun kemanusiaan,” kata Aimee Roslan.
Baca juga: Ini Rumah Karya Arsitek Jepang Takahiro Fuwa di Sawangan
Menurut Aimee Roslan, UIA merupakan organisasi badan dunia bagi para arsitek. Saat ini, UIA memiliki 117 seksi anggota yang tersebar di 125 negara, dengan sekitar 700.000 arsitek yang terdaftar di seluruh dunia.
“Dalam konteks inilah kita berkumpul. Banda Aceh adalah kandidat yang tepat untuk menjadi tuan rumah DR3 Aceh 2026, karena menunjukkan bagaimana membangun kembali dengan lebih baik, 21 tahun setelah dilanda salah satu bencana alam terbesar di abad ke-21, serta kemampuannya dalam beradaptasi terhadap bencana,” ujar dia.
Arsitektur Mitigasi Bencana
Sementara itu, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menyatakan bahwa forum arsitektur internasional ini mengangkat isu strategis terkait peran desain dalam menghadapi ancaman bencana alam serta proses rekonstruksi pascabencana.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menyatakan bahwa kehadiran pemerintah dalam forum ini merupakan bentuk komitmen mendorong inovasi serta karya berkualitas tinggi di bidang arsitektur sebagai bagian dari ekonomi kreatif nasional.
Baca juga: Pembangunan Huntara Aceh Tamiang Pakai Sistem Modular
“Kementerian ini dibentuk untuk mengorkestrasi di antara 17 subsektor, salah satunya adalah arsitektur. Sebagai bagian dari ekonomi kreatif, kami meyakini bahwa industri arsitektur akan terus berkembang,” kata Menteri Ekraf, saat menghadiri konferensi Jumat 17 April 2026.





