Gapuraprima Bungkus Penjualan Rumah Rp122 Miliar
PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) membungkus penjualan rumah dan rumah toko (ruko) sebesar Rp122,09 miliar sepanjang semester pertama 2026-landbank.id-gpra
Secara keseluruhan, pendapatan GPRA pada enam bulan pertama 2026 turun sekitar 10 persen bila dibandingkan dengan raihan pada periode sama 2025.
Per akhir Juni 2026, total pendapatan GPRA sekitar Rp202,84 miliar, sedangkan pada periode sama 2025 masih di level Rp224,98 miliar.
Penurunan penjualan ikut mewarnai torehan laba bersih Gapuraprima pada semester pertama 2026. Ketika itu, laba bersih GPRA turun sekitar 31 persen bila dibandingkan dengan raihan pada periode sama 2025.
BACA JUGA:Gapuraprima Mau Bagi Dividen Tunai, Ini Jadwalnya
Sepanjang enam bulan pertama 2026, laba bersih Gapuraprima sekitar Rp30,56 miliar, sedangkan pada periode sama 2025 masih bertengger di posisi Rp45,15 miliar.
Menurut Arvin, pada 2026, pihaknya membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih berkisar 5-10 persen.
Perseroan optimistis sekalipun ada sejumlah tantangan seperti geopolitik global dan kenaikan harga bahan bakar minyak yang membuat harga material bangunan meningkat.
“Kami berharap pendapatan dan laba bersih tahun 2026 bisa tumbuh di rentang 5- 10 persen dibandingkan dengan capaian tahun 2025,” ujarnya.
Pada 2026, kata Arvin, terkait dengan penjualan residensial, baik rumah tapak maupun apartemen, pihaknya berharap mendapat dukungan dari kalangan perbankan.
BACA JUGA:GPRA Incar Pertumbuhan 10 Persen
“Kami berharap perbankan lebih fleksibel dengan tidak mengurangi tingkat kehati-hatian (prudent) sehingga pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) dari konsumen dapat lebih banyak disetujui,” kata dia, beberapa waktu lalu.
Di sisi lain, jumlah aset GPRA tercatat meningkat pada semester pertama 2026 ke posisi Rp1,99 triliun bila disandingkan dengan per akhir Desember 2025 yang sekitar Rp1,98 triliun.
Sebaliknya, liabilitas GPRA turun dari semula Rp545,11 miliar pada akhir 2025 menjadi sekitar Rp499,16 miliar per akhir Juni 2026.
Peningkatan juga terlihat di lini ekuitas, yakni menjadi sekitar Rp1,49 triliun per akhir Juni 2026 dari semula Rp1,43 triliun pada akhir 2025.