Penjualan Apartemen PP Properti Melejit 54 Persen
Penjualan apartemen PT PP Properti Tbk (PPRO) melejit sekitar 54 persen pada semester pertama 2026 dibandingkan dengan periode sama 2025-landbank.id-gunungputri.co.id
Jakarta, landbank.id- Penjualan apartemen PT PP Properti Tbk (PPRO) melejit sekitar 54 persen pada semester pertama 2026 dibandingkan dengan periode sama 2025.
Mengutip laporan keuangan Perseroan, PT PP Properti Tbk yang mengusung kode saham PPRO di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini membungkus penjualan apartemen Rp111,27 miliar pada periode Januari-Juni 2026.
Sebaliknya, untuk periode enam bulan pertama tahun 2025, PT PP Properti Tbk baru mengantongi sekitar Rp72,09 miliar dari penjualan apartemen.
Segmen penjualan apartemen menjadi motor pendapatan anak usaha PT PP (Persero) Tbk (PTPP) tersebut. Per akhir Juni 2026, penjualan apartemen menyumbang sekitar 65 persen terhadap total pendapatan PPRO yang senilai Rp171,19 miliar.
Mengutip laman PPRO, perusahaan yang didirikan pada 2013 ini memiliki sejumlah proyek apartemen, yakni Grand Kamala Lagoon, Grand Sungkono Lagoon, dan Grand Dharmahusada Lagoon.
BACA JUGA:PPRO Undang Para Pemegang Saham Bahas Agenda Ini
Selain itu, The Ayoma Apartment, Gunung Putri, Westown View, Amartha View, Evenciio Apartment, The Alton, Begawan Apartment, Louvin, Mazhoji, Riverview Residence, Paladian Park, Pavilion Permata I, dan Paviion Permata II.
Kontributor kedua terbesar terhadap pendapatan pemilik proyek Lagoon Avenue Bekasi ini datang dari bisnis hotel, yakni sekitar Rp42,68 miliar.
Porsi sumbangan bisnis hotel terhadap total pendapatan PPRO pada semester pertama 2026 setara dengan sekitar 25 persen.
Sumber pendapatan lain dari pemilik Park Hotel Jakarta ini datang dari penjualan perumahan, penjualan tanah hingga pendapatan sewa.
Sekalipun mencatat pertumbuhan pendapatan, per akhir Juni 2026, PPRO masih membukukan rugi bersih Rp201,72 miliar, sebaliknya pada semester pertama 2025 mengoleksi laba bersih Rp47,19 miliar.
BACA JUGA:PPRO Mencatat Peningkatan Penjualan Hunian
Sementara itu, per akhir Juni 2026, jumlah aset PPRO terlihat turun tipis bila disandingkan dengan akhir Desember 2025, yakni dari Rp10,67 triliun menjadi Rp10,53 triliun.
Sebaliknya, liabilitas PPRO naik tipis menjadi Rp4,59 triliun dari semula Rp4,52 triliun pada akhir Desember 2025.
Ekuitas PPRO tercatat turun menjadi Rp5,94 triliun pada akhir Juni 2026 mengingat pada akhir Desember 2026 masih di level Rp6,14 triliun.
Integrasi Hotel
Sementara itu, itu, PPRO berencana mengalihkan aset Prime Park Hotel Bandung kepada PT Hotel Indonesia Natour (HIN), anak badan usaha milik negara (BUMN) PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau Injourney.
Mengutip keterbukaan informasi PPRO, rencana transaksi ini dilakukan sebagai bagian dari program konsolidasi hotel BUMN sesuai arahan Badan Pengaturan (BP) BUMN dan PT Danantara Asset Management (DAM).
BACA JUGA:Begini Peringkat Obligasi PPRO Terkini
Lalu, rencana transaksi ini merupakan bagian dari strategi optimalisasi portofolio investasi Perseroan melalui pengalihan aset hotel kepada entitas yang berfokus utama di bidang perhotelan.
"Nilai pengalihan yang disepakati atas aset hotel Prime Park Hotel Bandung sebesar Rp133,01 miliar," dikutip dari publikasi tertulis PPRO, baru-baru ini.
Selain itu, rencana ini dinilai akan menciptakan potensi peningkatan nilai melalui integrasi ekosistem perhotelan
BUMN. Integrasi aset hotel ke dalam ekosistem HIN berpotensi meningkatkan nilai ekonomi, efisiensi operasional, serta daya saing bisnis perhotelan secara keseluruhan.
“Transaksi ini memberikan manfaat strategis berupa optimalisasi pengelolaan aset dan peningkatan sinergi bisnis perhotelan melalui konsolidasi pengelolaan aset dalam satu entitas,” dilansir keterbukaan informasi PPRO.
BACA JUGA:Homologasi Tercapai, Manajemen PPRO Kian Optimistis
Per akhir Juni 2026, para pemegang saham PPRO terdiri atas PT PP (Persero) Tbk sebesar 64,96 persen, Yayasan Kesejahteraan Karyawan PT Pembangunan Perumahan (YKKPP) 0,07 persen, dan masyarakat 34,97 persen.
(*)