Dupoin Futures: Harga Emas Berpotensi Lanjut Turun, XAU/USD Dibayangi Tekanan Bearish
Dupoin Futures menilai prospek emas masih cenderung bearish. Selama harga belum mampu menembus area resistance US$4.102–US$4.179 serta masih bergerak di bawah MA21 dan MA34, tekanan jual diperkirakan akan tetap mendominasi pasar dengan target pelemahan me--Istockphoto
Jakarta, landbank.id - Dupoin Futures Indonesia memproyeksikan harga emas dunia (XAU/USD) masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026.
Berdasarkan analisis teknikal terbaru, logam mulia dinilai masih berada dalam tekanan karena belum mampu menembus area resistance penting, sementara sentimen fundamental global juga belum mendukung penguatan harga.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan skenario bearish masih menjadi proyeksi utama selama harga emas belum mampu ditutup di atas kisaran US$4.102 hingga US$4.179 per troy ounce.
"Pada grafik time frame harian (daily), struktur pergerakan emas masih memperlihatkan dominasi tren bearish. Harga hingga kini belum berhasil mencatatkan penutupan perdagangan di atas kisaran resistance 4.102 hingga 4.179, sehingga belum ada konfirmasi teknikal yang mengindikasikan perubahan arah menuju tren naik," ujar Geraldo dalam keterangan resminya yang diterima landbank.id, Rabu, 15 Juli 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar sehingga setiap upaya pemulihan harga belum mampu mengubah arah tren utama.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan dari pihak penjual masih relatif kuat dan mampu membatasi setiap upaya pemulihan harga yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir," jelasnya.
Ia menambahkan, kegagalan harga menembus area resistance membuat peluang pembalikan tren masih sangat terbatas.
"Oleh karena itu, setiap kenaikan yang terjadi dalam waktu dekat masih berpotensi bersifat sementara atau hanya menjadi bagian dari secondary trend, sebelum harga kembali melanjutkan tren penurunan yang menjadi arah utama pasar saat ini," katanya.
Harga Masih di Bawah Moving Average
Selain belum mampu menembus resistance, Dupoin Futures juga menyoroti posisi harga emas yang masih bergerak di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan Moving Average (MA) 34.
Menurut Geraldo, kedua indikator tersebut masih berfungsi sebagai dynamic resistance yang terus membatasi ruang penguatan harga emas.
"Selama harga belum mampu bergerak dan bertahan di atas area tersebut, struktur bearish masih tetap valid dan belum menunjukkan indikasi perubahan yang signifikan," ujarnya.
Sementara itu, indikator Stochastic Oscillator juga masih memperlihatkan momentum pelemahan yang cukup kuat dan belum memberikan sinyal bullish reversal.
Kondisi tersebut semakin memperkuat pandangan bahwa tekanan jual masih mendominasi pergerakan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah.
Berpotensi Turun ke Area Support
Berdasarkan kombinasi indikator teknikal tersebut, Dupoin Futures memperkirakan harga emas berpeluang melanjutkan pelemahan menuju area support US$3.981 per troy ounce.
Apabila tekanan jual semakin kuat dan level tersebut berhasil ditembus, maka harga diproyeksikan berpotensi turun lebih dalam menuju area US$3.873 per troy ounce.
"Kedua level support tersebut menjadi area penting yang perlu dicermati pelaku pasar dalam menentukan strategi transaksi berikutnya," kata Geraldo.
Dolar AS dan Yield Obligasi Masih Menekan Emas
Dari sisi fundamental, Dupoin Futures menilai penguatan dolar Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga emas.
Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama membuat aset berbasis dolar tetap menarik bagi investor, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield) juga menjadi sentimen negatif bagi pasar emas.
Ketika yield obligasi meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi dibandingkan emas, sehingga permintaan terhadap logam mulia berpotensi menurun.
Meski demikian, Dupoin Futures mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mencermati berbagai perkembangan ekonomi global yang dapat memicu perubahan sentimen.
Rilis data inflasi Amerika Serikat, laporan ketenagakerjaan, perkembangan aktivitas ekonomi, hingga pernyataan para pejabat Federal Reserve diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan dolar AS dan harga emas dalam beberapa waktu ke depan.
Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik juga berpotensi kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Namun selama dolar AS tetap menguat dan imbal hasil obligasi bertahan tinggi, ruang penguatan harga emas diperkirakan masih relatif terbatas.
(*)