Jakarta, landbank.co.id - Aktivitas trading di pasar keuangan tidak hanya terbatas pada emas, tetapi juga mencakup berbagai instrumen seperti forex, komoditas, saham, hingga indeks saham global. Karena itu, trader perlu memahami karakteristik instrumen yang diperdagangkan sekaligus menerapkan manajemen risiko secara disiplin.
Market Analyst Dupoin Indonesia, Geraldo Kofit, mengatakan perdagangan berjangka komoditi (PBK) menawarkan beragam pilihan instrumen bagi pelaku pasar.
“Trading itu tidak hanya emas saja, ada banyak sekali instrumen yang bisa difokuskan, contohnya forex, komoditas, saham, dan indeks yaitu saham global,” ujar Geraldo dalam acara Pemanfaatan Teknologi dalam Mitigasi Risiko pada PBK dan Crypto Market yang dihadiri landbank.co.id, Rabu, 12 Agustus 2026.
Menurut Geraldo, salah satu instrumen yang banyak diperhatikan pelaku pasar adalah futures trading. Pasar tersebut memiliki aktivitas perdagangan yang relatif tinggi dan memberikan peluang bagi trader untuk mengambil posisi sesuai dengan arah pergerakan harga.
“Futures trading, karena market yang lebih aktif. Bisa profit di dua arah,” katanya.
Ia menjelaskan, peluang transaksi dua arah memungkinkan trader mengambil posisi beli ketika memperkirakan harga akan naik maupun posisi jual ketika memperkirakan harga akan turun. Namun, peluang tersebut juga diikuti dengan risiko yang harus diperhitungkan.
Geraldo mencontohkan sejumlah faktor global yang dapat memengaruhi pergerakan pasar, termasuk perkembangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz serta kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
“Contohnya saat terjadinya berita Selat Hormuz yang berdampak pada futures, selain itu juga terkait berita besar lainnya seperti isu penangkapan presiden Mexico,” ujarnya.
Menurut dia, berita ekonomi dan geopolitik berskala besar dapat meningkatkan volatilitas sehingga trader perlu memahami faktor fundamental yang berpotensi memengaruhi harga.
Selain memahami arah pasar, Geraldo menekankan pentingnya pemahaman mengenai margin sebelum membuka posisi trading.
Margin merupakan dana yang diperlukan untuk membuka posisi dalam perdagangan berjangka. Besaran margin tersebut perlu diperhitungkan agar trader dapat menyesuaikan transaksi dengan kemampuan modal yang dimiliki.
“Margin dana yang dibutuhkan untuk membuka penuh nilai kontrak,” kata Geraldo.
Ia menambahkan, jumlah margin menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kemampuan modal dalam menahan fluktuasi harga.
“Jumlah margin ini biasanya tidak terlalu dikhawatirkan, tetapi harus dilihat juga kemampuan modal kita untuk menahan pergerakan pasar,” ujarnya.
Pemahaman terhadap margin menjadi semakin penting ketika pasar bergerak berlawanan dengan posisi trader. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya margin call hingga menggerus modal.
Selain margin, Geraldo juga mengingatkan trader untuk memperhatikan jumlah lot yang digunakan dalam setiap transaksi.
Menurutnya, jumlah lot menentukan besarnya eksposur transaksi. Semakin besar lot yang digunakan, semakin besar pula potensi keuntungan yang bisa diperoleh. Namun, pada saat yang sama, potensi kerugian juga semakin besar ketika pergerakan harga berlawanan dengan posisi yang diambil.
“Jumlah lot juga menjadi hal penting dalam melakukan trading, sebab menentukan besarnya eksposur dan risiko. Harus dilihat juga total margin yang bisa digunakan agar tidak terjadi margin call atau kehilangan modal,” jelas Geraldo.
Karena itu, trader tidak disarankan hanya melihat potensi keuntungan ketika menentukan ukuran transaksi. Kemampuan modal dalam menghadapi fluktuasi harga juga harus menjadi pertimbangan.
Pengaturan jumlah lot yang sesuai dengan modal dapat membantu trader menjaga eksposur risiko agar tetap berada dalam batas kemampuan finansial.
Sementara itu, President Director Smartin (SAS), Odanh Supriatna, menilai mitigasi risiko merupakan bagian penting dalam aktivitas trading.
Menurutnya, trader perlu memahami karakteristik dan risiko instrumen yang diperdagangkan sebelum mengambil posisi.
“Mitigasi risiko diperlukan untuk mengantisipasi pergerakan pasar yang tidak sesuai dengan perkiraan. Trader juga perlu menentukan batas risiko yang dapat ditoleransi serta menyesuaikan ukuran transaksi dengan kemampuan modal,” ujar Odang.
Ia menilai disiplin dalam mengelola risiko diperlukan karena tidak ada strategi trading yang dapat menjamin keuntungan secara terus-menerus.
Dengan demikian, aktivitas trading tidak hanya berkaitan dengan mencari peluang keuntungan, tetapi juga bagaimana trader mampu mengendalikan potensi kerugian.
Pemahaman terhadap instrumen, kondisi pasar, margin, jumlah lot, serta penerapan strategi mitigasi risiko menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan sebelum melakukan transaksi di pasar berjangka.
Bagi trader, pengelolaan risiko yang tepat menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga keberlangsungan aktivitas trading di tengah pergerakan pasar yang dinamis.
(*)