Belajar dari Bisnis Mal Summarecon
Baca juga: Menanti The Mall at Menara Jakarta, sang “Pohon Kehidupan”
Dalam rentang 10 tahun terakhir, 2015-2024, SMRA mendulang pendapatan dari bisnis mal secara konsisten. Angkanya pun cukup signifikan dibandingkan dengan sumber-sumber pendapatan Summarecon lainnya seperti rumah tapak dan apartemen.
Bisnis mal dan ritel yang menjadi salah satu sumber pendapatan berkesinambungan (recurring income) Summarecon itu tercatat menyumbang sekitar Rp1,17 triliun kepada pendapatan SMRA tahun 2015.
Angka pendapatan mal dan ritel terus tumbuh setiap tahunnya. Misal, pada 2016 tercatat tumbuh 9 persen dibandingkan dengan 2015.
Lalu, pada 2017 tumbuh 4 persen, 2018 (6 persen), dan 2019 (8 persen).
Pertumbuhan itu sempat berhenti sejenak ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia pada 2020.
Pergerakan orang yang dibatasi oleh pemerintah guna mencegah penularan Covid-19, membuat banyak bisnis ikut terhenti. Tidak luput pula bisnis pusat perbelanjaan.
Baca juga: Okupansi Mal di Jakarta Sentuh 73,8 Persen
Pendapatan SMRA dari bisnis mal dan ritel tahun 2020 harus rela anjlok sekitar 46 persen dibandingkan dengan tahun 2019.
Setelah penanganan Covid-19 yang kian membaik, perlahan pendapatan SMRA dari bisnis mal dan ritel kembali bertumbuh, mulai dari tahun 2021 hingga puncaknya pada 2024.
Tahun 2024, Summarecon mencetak rekor pendapatan mal dan ritel dalam rentang 10 tahun terakhir, 2015-2024, yakni sebesar Rp2,01 triliun.
(*)