Mengenal Gagal Ginjal: Gejala, Penyebab, Cara Mencegah, dan Pentingnya Deteksi Dini

Mengenal Gagal Ginjal: Gejala, Penyebab, Cara Mencegah, dan Pentingnya Deteksi Dini

Ilustrasi gambar ginjal--Istockphoto

Jakarta, landbank.id - Penyakit gagal ginjal masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius di Indonesia. Sayangnya, banyak penderita baru mengetahui kondisinya ketika fungsi ginjal sudah menurun drastis sehingga membutuhkan terapi cuci darah (hemodialisis) atau transplantasi ginjal.

Mengena hal itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) mengingatkan bahwa penyakit ginjal kerap berkembang tanpa gejala yang khas pada tahap awal. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah kerusakan ginjal yang lebih berat.

Lantas Bagaimana Cara Mendeteksinya? Yuk Simak Berikut Ini

Pemerintah melalui Kemenkes RI memperkuat deteksi dini melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hingga 5 Juli 2026, Kemenkes mencatat sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari upaya menemukan penyakit kronis, termasuk hipertensi dan diabetes yang merupakan faktor risiko utama gagal ginjal.

Kemenkes juga telah menerbitkan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Penyakit Ginjal Kronik yang menekankan pentingnya deteksi dini karena penyakit ginjal sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan mengendalikan faktor risiko seperti diabetes maupun hipertensi, angka kejadian gagal ginjal diharapkan dapat ditekan sehingga kebutuhan terapi cuci darah maupun transplantasi ginjal pada masa mendatang dapat berkurang.

 

Apa Itu Gagal Ginjal?

Gagal ginjal merupakan kondisi ketika fungsi ginjal menurun sehingga tidak mampu menyaring zat sisa metabolisme, racun, dan kelebihan cairan dari dalam darah secara optimal.

Akibatnya, zat-zat berbahaya menumpuk di dalam tubuh dan dapat mengancam keselamatan jiwa apabila tidak segera ditangani.

 

Secara umum, gagal ginjal dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

 

1. Gagal Ginjal Akut (Acute Kidney Injury/AKI)

 

Gagal ginjal akut terjadi secara tiba-tiba, dalam hitungan jam hingga beberapa hari. Kondisi ini masih berpeluang pulih apabila penyebabnya segera ditangani.

 

2. Gagal Ginjal Kronik (Chronic Kidney Disease/CKD)

 

Gagal ginjal kronik merupakan kerusakan ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan dan bersifat progresif. Pada stadium lanjut, pasien umumnya membutuhkan cuci darah atau transplantasi ginjal.

 

Penyebab Gagal Ginjal

Penyebab gagal ginjal akut

Beberapa kondisi yang dapat memicu gagal ginjal akut antara lain:

 

  • Luka bakar berat.
  • Dehidrasi berat atau perdarahan yang menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun.
  • Syok.
  • Infeksi berat seperti sepsis.
  • Cedera pada ginjal.
  • Reaksi alergi berat (anafilaksis).
  • Penyakit jantung, batu ginjal, infeksi ginjal, hingga kanker ginjal.

Penyebab gagal ginjal kronik

Sementara itu, gagal ginjal kronik paling sering dipicu oleh:

 

  • Diabetes melitus.
  • Hipertensi yang tidak terkontrol.
  • Obesitas.
  • Kebiasaan merokok.
  • Penyakit autoimun.
  • Penyakit ginjal bawaan.
  • Gangguan prostat.

Kemenkes menyebut diabetes dan hipertensi merupakan dua penyebab terbesar penyakit ginjal kronik sehingga pengendalian kedua penyakit tersebut sangat penting untuk mencegah gagal ginjal.

 

Faktor Risiko

Faktor risiko gagal ginjal terdiri dari faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang masih dapat dikendalikan.

 

Faktor yang tidak dapat dimodifikasi:

 

  • Riwayat keluarga.
  • Penyakit ginjal bawaan.
  • Kelahiran prematur.
  • Usia lanjut.
  • Trauma.

Penyakit tertentu seperti lupus, anemia, HIV/AIDS, dan hepatitis C.

Faktor yang dapat dimodifikasi:

 

  • Diabetes tipe 2.
  • Hipertensi.
  • Konsumsi obat pereda nyeri tertentu tanpa pengawasan.
  • Penyalahgunaan narkotika.
  • Radang ginjal.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Pada tahap awal, penyakit ginjal sering tidak menimbulkan keluhan. Namun ketika fungsi ginjal mulai menurun, gejala yang dapat muncul antara lain:

 

  • Tekanan darah tinggi.
  • Sesak napas.
  • Frekuensi buang air kecil berubah.
  • Urine berdarah atau berbusa.
  • Mual dan muntah.
  • Mudah lelah.
  • Sulit tidur.
  • Bengkak pada kaki, pergelangan kaki, dan kelopak mata.
  • Nafsu makan menurun.
  • Sakit kepala.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Kulit terasa gatal.

Cara Mencegah Gagal Ginjal

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat untuk menjaga fungsi ginjal, di antaranya:

 

  • Mengendalikan gula darah bagi penderita diabetes.
  • Menjaga tekanan darah tetap normal.
  • Mengurangi konsumsi garam.
  • Minum air putih yang cukup.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Berhenti merokok.
  • Menghindari penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) tanpa anjuran dokter.
  • Melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala, terutama bagi penderita diabetes dan hipertensi.

(*)

Sumber: kementerian kesehatan