Ciputra Raih Rp3,89 Triliun dari Penjualan Kaveling, Rumah, dan Ruko
PT Ciputra Development Tbk (CTRA) meraih Rp3,89 triliun dari penjualan kaveling, rumah hunian, dan rumah toko (ruko) sepanjang semester pertama 2026-landbank.id-ciputradevelopment.com
Jakarta, landbank.co.id- PT Ciputra Development Tbk (CTRA) meraih sekitar Rp3,89 triliun dari penjualan kaveling, rumah hunian, dan rumah toko (ruko) sepanjang semester pertama 2026.
Mengutip laporan keuangan Perseroan, penjualan kaveling, rumah hunian, dan ruko emiten berkode saham CTRA di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu turun sekitar 11 persen bila disandingkan dengan periode sama 2025.
Maklum, pada enam bulan pertama 2025, PT Ciputra Development Tbk masih mengantongi Rp4,35 triliun dari penjualan kaveling, rumah hunian, dan ruko.
Segmen penjualan kaveling, rumah hunian, dan ruko menjadi otot CTRA dalam meraup pundi-pundi pada Januari-Juni 2026.
BACA JUGA:Pendapatan CTRA Tumbuh, Ini Kontributor Utamanya
Per akhir Juni 2026, kontribusi segmen tersebut mencapai sekitar 75 persen terhadap total pendapatan perusahaan yang didirikan pada 1981 itu.
Manajemen CTRA pernah mengatakan bahwa pada awal 2026 Perseroan memiliki rumah dan ruko yang merupakan stock properti terkait Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sekitar Rp1 triliun.
“Ditambah unit-unit properti yang proses pembangunannya akan dipercepat sehingga dapat diserahterimakan kepada konsumen sampai dengan akhir tahun 2026 ini dengan nilai sekitar Rp3 triliun, total seluruh stock properti PPN DTP Perseroan tahun ini adalah sekitar Rp4 triliun,” papar manajemen CTRA, beberapa waktu lalu.
Perseroan juga menilai bahwa presales dan pembelian properti besutan CTRA tidak hanya ditentukan oleh insentif harga, namun juga dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti BI rate, tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), kondisi ekonomi, stabilitas nilai Rupiah serta tingkat kepercayaan konsumen (consumer confidence).
BACA JUGA:Laba CTRA Sentuh Level Tertinggi
Masih mengutip laporan keuangan Perseroan, kontributor kedua terbesar terhadap total pemasukan CTRA pada semester pertama 2026 datang dari bisnis pelayanan kesehatan, yakni Rp422,51 miliar.
Sumbangan dari lini pelayanan kesehatan alias bisnis rumah sakit tercatat sekitar 8 persen terhadap total pendapatan pemilik empat proyek healthcare tersebut.
Secara keseluruhan, CTRA membukukan pendapatan sekitar Rp5,19 trilun pada enam bulan pertama 2026 alias lebih rendah sekitar 12 persen bila disandingkan dengan periode sama 2025 yang sekitar Rp5,88 triliun.
Laba Turun
Sementara itu, pada semester pertama 2026, CTRA mengantongi laba bersih, yakni laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sekitar Rp1,10 triliun.
Laba itu lebih rendah sekitar 11 persen bila disandingkan dengan torehan pada periode sama 2025 yang sebesar Rp1,24 triliun.
BACA JUGA:Mayoritas Capex Ciputra untuk Pembelian Landbank, Capex 2026 Rp1 Triliun
Perseroan memperkirakan pendapatan dan laba bersih tahun 2026 akan mengalami penurunan sekitar 10 persen, seiring dengan penurunan presales Perseroan yang terjadi pada 2025.
“Sebagai pengembang properti (developer), Perseroan hanya bisa mengakui pendapatan pada saat unit properti diserahterimakan kepada pembeli, sehingga penurunan presales pada tahun 2025 akan berdampak pada pendapatan tahun 2026,” kata manajemen CTRA.
Di sisi lain, per akhir Juni 2026, CTRA membungkus aset Rp46,62 triliun, lebih rendah bila disandingkan dengan torehan akhir Desember 2025 yang sebesar Rp47,99 triliun.
Liabilitas CTRA per akhir Juni 2026 juga lebih rendah bila dibandingkan dengan akhir 2025, yakni menjadi Rp19,25 triliun dari semula Rp21,07 triliun.
Sebaliknya ekuitas CTRA menguat dari Rp26,92 trilun pada akhir 2025 menjadi sebesar Rp27,38 triliun per akhir Juni 2026.
BACA JUGA:Kuartal Pertama 2026, Ciputra Raih Pendapatan Rp2,56 Triliun
Per akhir Juni 2026, para pemegang saham CTRA terdiri atas PT Sang Pelopor 53,31 persen, dan Harun Hajadi 0,08 persen.
Selain itu, para pemegang saham perusahaan pemilik 69 proyek perumahan ini adalah Nanik J Santoso kurang dari 0,01 persen, Tulus Santoso kurang dari 0,01 persen, Sutoto Yakobus kurang dari 0,01 persen, dan masyarakat 46,60 persen.
(*)