Ketegangan Dagang AS-Uni Eropa Dorong Harga Emas ke Rekor Tertinggi Baru

Ketegangan Dagang AS-Uni Eropa Dorong Harga Emas ke Rekor Tertinggi Baru

Jakarta, landbank.co.id – Harga emas global (XAU/USD) kembali bergerak menguat pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026.

Berdasarkan pantauan landbank.co.id dari data perdagangan sesi Asia Selasa, 20 Januari 2026, harga emas XAU/USD saat ini menyentuh rekor tertinggi baru yakni US$ 4.707 per troy ounce.

Sebelumnya, harga emas XAU/USD sempat tertekan dan menyentuh level terendah dalam empat hari pada akhir pekan lalu ke level US$4.536 per troy ounce.

Penguatan harga emas terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sentimen risiko global yang kembali memanas mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman, salah satunya emas.

Analisis teknikal Dupoin Futures, analis Andy Nugraha menilai bahwa pergerakan emas saat ini masih berada dalam jalur yang konstruktif.

Ia menyampaikan, indikasi teknikal dari formasi candlestick serta arah indikator Moving Average menunjukkan tren bullish emas semakin solid.

“Harga emas masih mampu bertahan di atas area support kunci, mencerminkan dominasi minat beli yang kuat dan minimnya tekanan jual, meskipun harga berada di level yang relatif tinggi,” ujar Andy dalam analisanya yang dilihat landbank.co.id Selasa, 20 Januari 2026.

Andy juga memproyeksikan bahwa selama sentimen pasar masih didominasi oleh sikap waspada terhadap risiko global, emas berpeluang melanjutkan penguatannya.

“Jika momentum bullish tetap terjaga, harga emas berpotensi mengarah ke area US$4.750 sebagai target kenaikan berikutnya,” ungkap Andy.

Meski demikian, Andy mengingatkan bahwa pergerakan harga di dekat puncak historis kerap diiringi volatilitas tinggi.

“Jika aksi ambil untung dan harga gagal mempertahankan momentum naik, maka area US$4.565 diperkirakan menjadi zona support terdekat yang perlu dicermati pelaku pasar,” terangnya.

Dari sisi fundamental, reli emas tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan perdagangan global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana akuisisi Greenland oleh AS, yakni Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Finlandia, Belanda, dan Inggris.

Tarif awal sebesar 10 persen dijadwalkan berlaku mulai awal Februari dan berpotensi meningkat hingga 25 persen pada pertengahan tahun apabila tidak tercapai kesepakatan. Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar akan meluasnya perang dagang, terlebih Uni Eropa dikabarkan tengah menyiapkan opsi tarif balasan bernilai puluhan miliar euro terhadap impor dari AS.

Di tengah ketidakpastian tersebut, emas kembali menjadi sorotan sebagai instrumen perlindungan nilai. Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, sementara dinamika kebijakan moneter AS juga turut mempengaruhi arah harga emas.

Meski sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga dalam waktu dekat, ketidakpastian terkait waktu dan besaran pemangkasan suku bunga tetap membayangi pasar. Di sisi lain, pelemahan Dolar AS turut memberikan dukungan tambahan bagi emas. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat melemah ke kisaran 99,02, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami kenaikan.

Dengan latar belakang tersebut, Andy Nugraha menilai bias pergerakan emas masih cenderung positif. Selama risiko global tetap membayangi dan minat terhadap aset safe haven belum surut, harga emas berpotensi mempertahankan tren bullish dan bergerak menuju level yang lebih tinggi dalam waktu dekat.

(*)