Ruang Kantor Kosong Masih Tinggi, Cek Perubahan Minat Penyewa
Tingkat hunian ruang kantor di SCBD sudah berada di angka 87 persen, lebih tinggi dibandingkan beberapa koridor utama CBD lainnya di Jakarta-landbank.id-
Pada kuartal ketiga 2026 ada perubahan berikutnya, downsizing lebih sedikit, ada perusahaan yang menambah ruang kantor. Mereka yang aktif antara lain sektor energi, teknologi yang terkait IT, perusahaan logistik dan consumer goods.
“Ini belum berarti Jakarta sudah mulai ekspansi besar-besaran, relokasi masih menjadi pendorong utama transaksi, sebagian kebutuhan masih berupa pipeline, kita berharap ada sektor migas masuk. Intinya, sinyal positif, tapi kita masih terus monitor,” papar Ferry.
Dia menuturkan, beberapa tahun terakhir pertanyaannya adalah bagaimana perusahaan memanfaatkan ruang yang lebih sedikit, kini perlahan muncul pertanyaan baru, yakni apakah membutuhkan ruang tambahan untuk mendukung pertumbuhan bisnis kami. Ini merupakan sinyal cukup penting.
BACA JUGA:Bisnis Perkantoran SCBD Jakarta, Riema Chandra: Pasar Paling Menuntut
Tidak hanya harga murah untuk menarik penyewa. Perubahan yang perlu dicermati adalah cara gedung perkantoran dalam bersaing mendapat tenant karena saat ini over supply. Sekarang, pertimbangan bergeser siapa yang memberikan value terbaik.
Menurut Ferry, para tenant semakin melihat total cost occupancy, yaitu harga sewa, service charge, fitout, dan waktu yang dibutuhkan untuk pindah, serta fleksibiltas kontrak sampai kesiapan operasional untuk ruang.
Ini juga menjelaskan kenapa kantor ruang siap pakai semakin diminati terutama untuk ukuran kecil sampai menengah.
Kompetisi antargedung mulai berubah, tidak selalu diskon besar, kadang yang lebih efektif menghilangkan hambatan tenant untuk pindah kian diminati.
BACA JUGA:Ruang Kantor Kosong, Leads Property: Bisa Dialihfungsikan
“Pertanyaan sekarang bukan seberapa murah harga sewa, tapi berapa mudah dan berapa biaya total untuk masuk ke gedung perkantoran,” ujar Ferry.
(*)