AKRA Raup Rp1,82 Triliun dari Penjualan Tanah Kawasan Industri

AKRA Raup Rp1,82 Triliun dari Penjualan Tanah Kawasan Industri

 

Laba Meningkat

Penjualan kawasan industri menyumbang sekitar 4 persen terhadap total pendapatan AKRA pada 2025.

Kontributor terbesar masih berasal dari perdagangan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM), yakni Rp34,01 triliun atau sekitar 74 persen dari total pendapatan AKRA.

Penyumbang kedua terbesar datang dari perdagangan dan distribusi kimia dasar dan lainnya, yakni Rp7,30 triliun atau setara sekitar 16 persen.

Baca juga: Kawasan Industri Butuh Solusi Akomodasi

Selain itu, ada juga pendapatan dari operasi pelabuhan dan transportasi, yakni sekitar Rp1,30 triliun setara sekitar 3 persen.

Maklum, bisnis inti AKRA adalah di perdagangan dan distribusi dengan investasi di segmen kawasan industri serta fasilitas dan utilitasnya.

Secara keseluruhan, pada 2025, pendapatan AKRA tumbuh sekitar 21 persen disandingkan dengan periode sama 2024, yakni dari Rp38,46 triliun menjadi Rp45,73 triliun.

Peningkatan pendapatan ikut mendorong pertumbuhan laba bersih AKRA pada 2025. Kala itu, laba bersih AKRA tumbuh sekitar 11 persen.

Masih mengutip laporan keuangan Perseroan, AKRA mengoleksi laba bersih Rp2,47 triliun pada 2025, sebaliknya, pada 2024 masih bertengger di posisi Rp2,23 triliun.

Sementara itu, total aset AKRA pada akhir 2025 naik bila dibandingkan dengan setahun sebelumnya, yakni menjadi Rp36,56 triliun dari semula Rp33,11 triliun.

Baca juga: Penjualan Tanah Kawasan Industri AKRA Tembus Rp877 Miliar

Di lini liabilitas juga tercatat adanya peningkatan, yaitu dari semula Rp18,48 triliun menjadi Rp20,95 triliun pada 2025.

Begitu juga dengan ekuitas. Per akhir 2025, ekuitas AKRA tumbuh menjadi Rp15,61 triliun dari semula sekitar Rp14,62 triliun.