The Royal Alana, Peluru Baru SWID
“Kami melihat adanya mismatch antara potensi pasar yang kami miliki dengan kapasitas akomodasi yang tersedia. Dengan hadirnya The Royal Alana Yogyakarta sebagai hotel bintang lima ini, kami tidak hanya menjawab kebutuhan tersebut, tetapi juga menciptakan peluang baru untuk memperkuat kontribusi segmen perhotelan terhadap kinerja keuangan Perseroan,” ujar Bogat Agus Riyono, direktur utama PT Saraswanti Indoland Development Tbk dikutip Selasa, 5 Agustus 2025.
SWID meyakini bahwa kehadiran The Royal Alana Yogyakarta ini akan memberikan solusi yang komprehensif atas permintaan pasar yang terus tumbuh, sekaligus menciptakan kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan Perseroan dalam jangka panjang. Dengan fasilitas premium dan layanan berstandar internasional, proyek ini diharapkan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan berkelanjutan yang memberikan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham.
Pendapatan Melonjak
Pendapatan SWID pada kuartal kedua 2025 melonjak sekitar 270 persen bila disandingkan dengan kuartal pertama 2025 (quarter on quarter/QoQ).
Mengutip laporan keuangan PT Saraswanti Indoland Development Tbk, emiten berkode saham SWID ini membungkus pendapatan Rp77,95 miliar pada kuartal kedua 2025.
Sebaliknya, pada kuartal pertama 2025, Saraswanti Indoland Development mengoleksi pendapatan Rp21,06 miliar.
Baca juga: Pemilik Hotel di Yogyakarta Ini Getol Tebar Dividen
Sementara itu, per akhir Juni 2025, jumlah aset SWID tercatat senilai Rp475,33 miliar, sedangkan pada akhir Desember 2024 tercatat sebesar Rp479,29 miliar.
Liabilitas SWID menyusut dari semula Rp240,03 miliar pada akhir 2024 menjadi Rp222,40 miliar pada semester pertama 2025.
Di sisi lain, ekuitas SWID naik menjadi Rp252,92 miliar per akhir Juni 2025, sedangkan pada akhir 2024 masih di angka Rp239,26 miliar.
Pemegang saham SWID per akhir Juni 2025 terdiri atas PT Saraswanti Utama sebesar 63,52 persen.
Kemudian, Bogat Agus Riyono sebesar 15,88 persen, dan masyarakat 20,61 persen.